(Menjelang) 24
18 Feb 2012 Leave a Comment
Hari ini adalah hari Rabu, 16 Februari 2012. Tiga hari menjelang tepat sebulan sebelum ulang tahun saya yang ke-24. Baru saya sadari, telah dua tahun lewat sejak saya telah meraih gelar sarjana. Baru saya sadari, saya masih begini-begini saja. Belum ada pencapaian yang, menurut saya, memuaskan. Masih banyak keinginan saya yang belum terlaksana. Umur saya telah (hampir) menginjak angka 24, namun begitu banyak yang masih ingin saya raih. Begitu banyak yang harus saya lakukan. Begitu buta saya akan langkah yang harus diambil.
Kekasih saya, mengajarkan pada saya pada apa yang disebut dengan target. Misalnya, dia punya target harus mengantongi gelar S2. Saya pikir, ketika dia dulu menceritakan tentang cita dan mimpinya, itu hanya sekedar lewat di muka. Namun ternyata, di usianya yang menginjak hampir 25, ia telah mengantongi kursi program master di Universitas Indonesia.
Resolusi hidup yang terpecah ke dalam target-target hidup bukannya tidak pernah saya susun. Saya ingin ini, saya ingin itu. Saya ingin begini, saya juga ingin beginu. Namun dari sekian ini itu begini beginu, sedikit sekali kalau bukan tidak ada sama sekali dari target-target itu yang tercapai. Kesalahan terbesar saya, yang juga merupakan kesalahan terbesar dari sebagian besar orang lainnya, adalah mengira bahwa dengan menyusun resolusi dan target hidup, maka kita mengira telah melaksanakan sebagian dari usaha untuk mencapainya. Akibatnya, di akhir target, kita mencoret dengan rasa getir tiap target yang tidak tercapai.
Dalam sebuah artikel yang saya baca, ternyata salah satu cara jitu yang perlu kita lakukan agar resolusi yang kita buat itu tercapai adalah mudah saja: beritahu orang! Publikasikan kepada sebanyak mungkin orang yang ingin tahu atau sekiranya peduli tentang resolusi dan target hidup kita. Tujuannya adalah agar orang-orang yang mengetahui tentang resolusi hidup kita dapat berfungsi sebagai ‘pengingat’. Selain itu, kita sebagai penyusun dan tukang pamer resolusi akan merasa memiliki tanggung jawab sosial untuk menepati tiap butir janji yang telah kita ucapkan.
Jadi, tiga hari menjelang tepat sebulan sebelum ulang tahun saya yang ke-24, setelah sekian lama tidak menulis, saya memberanikan diri untuk menjadi si penyusun dan tukang pamer resolusi. Saya menyadari bahwa ini cara nekat bagi saya untuk menjawab pertanyaan besar dalam hati saya, ‘So what’s next?’
Saya ingin lebih. Saya ingin maju. Saya ingin lebih baik.
Dan saya akan kembali untuk pamer.
The Time
07 Dec 2011 Leave a Comment
The time is surely not a sprinter anymore. It runs slower and slower, and now it’s just a walk.
Why are you not running anymore, Time? You’re the best sprinter of all I know.
Dance with Me
05 Dec 2011 Leave a Comment
Take a step forward, and reach my hand
Let me take you to a dance
Dengan jalinan lagu merdu
Let me take you to a dance
Mari kita berdansa, berdua
Kembali ke masa dimana tak ada ‘kita’
So I could know you
Oh how I want to know you
I want to know you when you were younger than today;
Siapakah kamu?
Rambutmu lebih panjang, raut wajahmu kenapa lebih ganteng?
And your friends who I don’t know
And the girl, who is she?
Let’s take a dance with me
A dance that travels through mistery
Let’s take a dance with me
So the popping questions would get answers properly
Who is he? Where were you? What were you doing at the time this picture taken?
Please, dance with me
Share me the story
Please, dance with me
So I won’t have to travel around, lonely
Take a step forward, and reach my hand
Let me take you to a dance
Let me take you to a dance
Dance with me
Tidak Sopan Santun?
30 Nov 2011 Leave a Comment
This is just a short one: saya agak terganggu jika ada orang yang mengasosiasikan kata ‘tidak tahu sopan santun’ dengan ‘primitif’. Misalnya, ‘Nggak tau sopan santun, dasar orang primitif!’ Atau ‘Kelakuan nggak ada sopan-santunnya, orang primitif kali ya?’
Kenapa?
Karena sopan santun adalah cara manusia untuk bertahan hidup dalam sebuah lingkungan sosial. Dalam sebuah lingkungan sosial, manusia hidup dengan manusia-manusia lainnya, dalam sebuah aturan yang disepakati bersama. Jika seseorang tidak mau mengikuti aturan ini, maka dia akan dikucilkan, dicemooh, atau lebih ekstrim, dikeluarkan.
Contohnya: jika sendirian, tentu tidak apa saya mengupil. Namun jika sedang bersama dengan banyak orang, misalnya di tengah acara akad nikah teman, saya ngupil, tentu akan ada orang-orang yang baik secara langsung ataupun tidak akan menegur saya. Artinya apa? Orang-orang yang berkumpul dalam acara akad nikah itu menyetujui bahwa ngupil bukan suatu tingkah laku yang pantas dilakukan; dan saya sebagai salah satu orang yang sedang berada dalam acara itu harus mengikuti aturan jika ingin tetap berada di acara tersebut. Jika saya tidak mengikutinya, saya akan dicemooh orang. Saya akan mendapat teguran. Parahnya, saya akan diusir sebelum bisa ikut antre makan.
Mengikuti aturan sosial dalam sebuah lingkungan masyarakat sudah ada sejak manusia mengenal yang namanya hidup berkelompok. Jadi entah zaman manusia masih tinggal di goa, tinggal di tenda, tinggal di rumah kayu, atau tinggal di apartemen seperti tren skarang, sama saja: asal tinggal bersama dengan sekelompok orang lain, maka kita harus mematuhi aturan yang berlaku di dalam lingkungan tersebut. Bahkan, kita harus bersama-sama menjaga agar peraturan yang ada dipatuhi oleh tiap anggota masyarakat yang tinggal bersama-sama dengan kita.
Jadi, kesimpulannya, bersopan santun tidak ada hubungannya dengan primitif atau modern. Kalaupun mau ngatain orang, mungkin sebaiknya begini, ‘Dasar tidak tahu sopan santun! Biasa hidup sendiri kali ya?’ akan terdengar lebih masuk akal dan jelas tidak akan mendiskreditkan manusia-manusia nenek moyang kita, yang kita cap sebagai primitif.
Selamat malam, sampai ketemu di cerita selanjutnya!
Strong Is…
06 Oct 2011 Leave a Comment
Strong is when you accept that you’re sad. You know that this hurts you more than you could expect. And you don’t know how to get up. And you know that this, eventually, will come back again. Maybe even more. And you don’t know whether you can take it or not.
But above that, you still say that you can, even when you don’t believe every single piece of it. You still say that you will overcome, even when you don’t know how. You still say that you’re strong, even when you know, at that time, that you are not.
And in a time, you really can. You overcome.
And you’re still strong.
Another Daily Lesson
02 Oct 2011 Leave a Comment
in Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur, Kisah tentang Belajar
Sudah dua minggu ini saya tinggal di Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Di kota ini, saya bertugas untuk membuat sekolah model yang akan ditiru oleh 29 sekolah imbasan. Hari ini, saya tidak akan bercerita mengenai pekerjaan saya, tapi seseorang yang terkait dengannya.
Namanya Ibu Yoga. Ia adalah seorang pemilik warung makan di seberang rumah, yang dengan suka hati dan suka cita saya nobatkan sebagai malaikat karena kepandaiannya memasak dan hobinya memberikan bonus dalam pesanan makanan yang saya beli. Pernah, saya dan Mbak Manda (partner kerja saya) ke warungnya untuk makan malam dan ternyata ikan goreng yang kami pesan sudah habis. Ia meminta maaf dan menawarkan kami ayam goreng saja. Karena memang tidak ada pilihan lain, kami pun mengiyakan saja. Ketika pesanan datang, ternyata ia menambahkan beberapa potong udang goreng. Padahal, kami tahu bahwa satu porsi ayam goreng jelas tidak termasuk udang goreng karena kami pernah makan hidangan yang serupa sebelumnya.
Kemudian, sembari kami makan, beliau ikut duduk di meja kami. Ia bertanya, apakah kami bisa memberikan pelajaran bahasa Inggris untuk anaknya yang sudah duduk di kelas 5 SD, namun sama sekali tidak bisa pelajaran bahasa Inggris. Saat itu, kami belum bisa mengiyakan karena pekerjaan kami yang membuat kami tidak selalu berada di rumah. Bahkan, seringkali kami pergi pagi dan pulang malam. Namun sebenarnya, saya sendiri enggan; enggan karena membayangkan betapa tambahan pekerjaan ini akan merepotkan. Di pikiran saya ketika itu, dengan sembilan pelatihan, observasi kelas harian, kunjungan mingguan, dan laporan laporan laporan, semuanya harus selesai dalam waktu tiga bulan, kenapa saya masih harus meluangkan waktu untuk sesuatu yang memungkinkan saya tidak dapat menyelesaikan pekerjaan?
Hingga kemudian beliau melanjutkan ceritanya. Ia punya dua orang putra. Putra pertamanya sudah duduk di bangku kelas 5 SD. Anaknya pernah mengalami kecelakaan; sewaktu bayi tangannya tergilas motor. Akibatnya, jemari tangan kirinya hilang dua. Anak ini, ceritanya dengan penuh kebingungan dan ketidakhabispikiran seorang ibu, tidak mau belajar. Disuruh belajar malas sekali. Nilainya jelek-jelek. Baru sekarang, ketika si ibu memutuskan anaknya harus ikut les, nilainya membaik. Kata si ibu yang naif, ‘Saya ini tidak bisa apa-apa Mbak, saya ini bodoh. Saya pengen anak-anak saya kayak Mbak. Pinter-pinter, sudah kerja.
‘Semua wali kelasnya saya datangi Mbak, saya tanyakan apakah anak saya nakal di kelas. Apakah anak saya belajar di kelas. Kalau di rumah kerjaannya bongkar mainan, mau mainan mahal atau mainan bagus sama saja, jadinya pasti dia bongkar. Ya saya diemin aja meski tante-tantenya marahin dia. Ya siapa tau dia jadi mekanik atau apalah.’ Kemudian, ia melanjutkan, ‘Kemarin, dia minta laptop. Saya bilang sama dia, “Siapa yang mau ngajarin kamu pake laptop? Bapakmu, Ibumu, nggak ada yang bisa ngajarin kamu.” Kalau dia ke warnet itu Mbak, saya selalu tanya, “Memangnya kamu bisa apa?” Trus dia jawabnya, “Bisa.” Coba, dia belajar darimana?’ katanya kepingin.
Terdiam, sunyi yang membuat saya jengah, dia kembali bertanya, ‘Mbaknya… ini, lulus ya?’ Bengong. ‘Maksudnya.. Lulus kuliah?’ tanggap saya. ‘Ya, iya. Lulus kuliah?’ ‘Iya,’ jawab saya, dan pertanyaan berikutnya yang membuat saya luluh, ‘Kalau.. mau kuliah, harus SMA dulu-kah? Kalau SMK, boleh kuliah?’
Ia tidak perlu meneruskan kalimatnya. Saya sudah bisa membaca di wajahnya apa yang ia inginkan.
Bertemu dan mengobrol dengan Ibu Yoga membuat saya tersentak, bahwa sekolah bukan lagi hanya tentang guru, tentang murid, tentang mendapat nilai bagus. Sekolah juga tentang harapan. Harapan seorang, dua orang, tiga orang ibu yang kepingin anaknya ‘lebih’ daripada dirinya. Lihat sekeliling kita. Pulanglah ke rumah, lihatlah mereka, dua orang yang paling mencintai kita di dunia, berharap kita menjadi seseorang yang hebat; berharap anaknya pintar, berharap anaknya punya banyak teman, berharap anaknya disayang gurunya, berharap anaknya dapat nilai bagus. Berharap kita menjadi seseorang yang luar biasa; supaya nantinya bisa mereka pamerkan dan banggakan kepada Tuhan, ‘Hei, Kamu tidak salah menitipkan dia kepada saya. Lihatlah dia.’
Dalam seketika, pekerjaan saya bukan lagi tentang sederet pelatihan dan laporan. Dalam sesaat, pekerjaan saya menjadi lebih indah.
Kami bangkit. Sembari mengenakan sandal, ‘Saya kosong hari Jumat. Ibu datang saja selepas maghrib ya.’
Untuk Bapak dan Ibuku, lihatlah aku disini, berusaha mewujudkan harapan kalian, dan harapan seorang ibu lainnya.
Bagiku..
15 Sep 2011 Leave a Comment
Bagiku, cinta adalah ketika untuk kesekian waktu kalinya, dalam asa; ragu: marah; cemburu; lelah; segala rasa tak ingin tahu apa-apa..
Kamu tetap ada.
Bagiku, cinta adalah ketika aku telah membencimu, aku tetap berharap untuk kesekian kalinya, sekali lagi jatuh cinta padamu.
Dan ya, aku tak pernah berharap terlalu lama.
Dulu, rasanya tak ada kalimat yang bisa membuatnya mengerti caraku mencintainya. Sekarang…
Tetap tak ada.
Karena bagiku, itulah cinta.
!@#$%^&*()!!!!!!!!!!
05 Sep 2011 Leave a Comment
Berkat dua minggu salah urat dan sepuluh menit mencoba memperbaikinya dengan mengurut, saya terpaksa menghabiskan seminggu berikutnya dalam banyak sumpah serapah yang bisalah dirangkum dalam sebuah kalimat: !@#$%^&*()!!!!!!!!!!
Uraian kisahnya begini: selama dua minggu saya merasakan sakit di bagian jempol tangan sebelah kanan, hanya saja sakit itu berupa nyeri ringan, tidak signifikan. Saya masih bisa beraktifitas, masih bisa menggunakan tangan saya untuk melakukan kegiatan sehari-hari, meski tentunya ada rasa nyeri sedikit. Ketika dua minggu telah berlalu, saya pikir, alangkah anehnya saya yang masih mencoba membiarkan rasa sakit ini. Karena meskipun tidak signifikan, tetap saja ada yang tidak beres dengan tangan saya kan? Oleh sebab itu, pada suatu malam, saya mencoba untuk memperbaiki sendiri tangan saya… yang rupanya menjadi salah satu kesalahan terbesar dalam hidup saya.
Saya mengoleskan minyak urut dan mengurut sendiri sumber nyeri yang terletak di jempol tangan kanan ini. Ternyata ada tonjolan—sepertinya memang ada urat yang bergeser atau tertarik dan pindah seenak jidatnya ke rumah urat tetangga. Rasa sakitnya langsung berkurang—tapi hanya semalam. Keesokan paginya, tangan saya jadi dua kali lebih sakit daripada sebelum-sebelumnya. Oleh sebab itu, saya segera menempelkan koyo super panas. Tak dinyana-nyana, siangnya di kelas, ukuran jempol saya sudah berubah jadi seukuran paha ayam. Tidak hanya itu, seluruh jari tangan saya juga bengkak dan rasa sakitnya menjalar hingga ke lengan; berdenyut-denyut, panas, dan menusuk. Siang itu juga, saya langsung pergi ke rumah sakit dan mendapati kenyataan pahit: saya sudah ‘merusak’ tangan saya. Berkat pengurutan tradisional yang saya lakukan sendiri di rumah, jaringan yang bergeser di dalam kulit dan daging saya telah meradang dan infeksi. Saya harus minum obat anti radang dan mengoleskan salep khusus ke jempol saya.
Teman-teman, sakitnya bukan main—dokter sudah memperingatkan saya untuk tidak lagi mencoba-coba mengurut sendiri (yang sebenarnya sudah tidak perlu dikasitahu, yakali). Ia juga sudah memperingatkan saya bahwa rasa nyeri yang akan saya rasakan akan lebih sakit daripada rasa nyeri gores di kulit luar. Jadi, selama seminggu berikutnya, kalimat yang paling sering saya ucapkan adalah !@#$%^&*()!!!!!!!!!!
Saya mengucapkan !@#$%^&*()!!!!!!!!!! ketika harus mengancingkan baju atau mengambil tas; membisikkan !@#$%^&*()!!!!!!!!!! ketika harus mengetik atau menulis di papan tulis; mendesahkan !@#$%^&*()!!!!!!!!!! ketika membayar uang tiket kereta. Banyak hal yang tidak bisa saya lakukan karena cedera ini; dan satu hal yang saya sadari adalah betapa pentingnya posisi si jari jempol tangan kanan. Saya jadi menyadari fungsi jari jempol sebagai grip—pegangan.
Betapa seringnya saya mengucapkan (atau lebih tepatnya meneriakkan) !@#$%^&*()!!!!!!!!!! Saya terpaksa mencelupkan kepala saya ke dalam gayung karena tidak bisa mengangkat gayung. Saya terpaksa keramas dengan tangan kiri. Saya tidak bisa menulis dengan tangan kanan, akibatnya para mahasiswa baru harus puas melihat tulisan saya yang seperti ceker ayam di papan tulis. Saya jadi tidak nafsu makan, karena saya harus makan dengan tangan kiri. Saya terpaksa bolos puasa tiga hari karena harus minum obat anti nyeri. Saya hanya bisa meringis selebar-lebarnya sambil memaki dengan kalimat !@#$%^&*()!!!!!!!!!! dalam hati ketika eyang saya—dan sekompi saudara-saudara lainnya—dengan penuh semangat lebaran menggenggam tangan kanan saya, mengucapkan minal aidin walfaidzin, tanpa sadar bahwa saat itu, mereka telah menorehkan satu hal baru yang harus saya maafkan di lebaran tahun depan.
Some things only happen to some people—I’ve been warning you, People. Pelajaran utama dari pengalaman hidup saya adalah: 1) Jangan pernah lagi remehkan pengetahuan urut-mengurut, 2) Terkait dengan pelajaran pertama: jangan sembarangan mengurut, dan 3) Jangan celupkan kepala ke dalam gayung karena air bisa masuk lewat hidung.
Sekian cerita saya kali ini, sampai ketemu di lain hari!
They Strive, They Struggle, They Live
10 Aug 2011 Leave a Comment
Mari saya perkenalkan dengan Beler. Usianya 19 tahun. Dia adalah seorang remaja yang saya temui hari Minggu lalu di sebuah rumah singgah di daerah Bukit Duri. Cerita-cerita meluncur deras dari bibirnya; ia bercerita bahwa dia bertugas untuk memasak dan mengantarkan adik-adiknya pergi ke sekolah setiap hari. Katanya, ‘Ya namanya juga mantan anak jalanan Kak, kalo nggak dianter sampe ke depan gerbang sekolah, ntar dia ga ke sekolah, tau-tau udah di Manggarai!’
Ia bercerita dengan bangga bahwa ia pintar memasak. Menyentil harga diri saya, karena ketika saya bertanya, ‘Lo bisa masak apaan? Indomie?’ ia menjawab, ‘Yeee, kagak, saya bisa masak rendang, sop ayam! Saya yang dikirim sama rumah singgah buat masak bareng Chef A! Disini saya yang masak, saya juga yang piket jaga rumah singgah gini. Saya tinggal disini, makan juga disini.’
Cerita kemudian berpindah. Ia bercerita, bahwa pacarnya ada empat. Geli, ia bercerita, ‘Baru malem minggu kemaren Kak, empat-empatnya dateng. Saya kebingungan, satu di Gang A. Satu di pengkolan B. Kebingungan, saya pinjem aja motor trus saya samperin satu per satu. Disini Kak, saya sama Komprang, sama Rosit tuh, playboy Kak!’
Cerita beranjak ke aksesoris yang dikenakannya. Dengan bangga ia menunjukkan gelang rantai yang melingkari pergelangan tangannya. Ia bertutur, bahwa tidak sembarang orang bisa mengenakan gelang itu. Baru saja saya bertanya-tanya dalam hati, apa istimewanya benda ini, dia berkata, ‘Kalo udah pake gelang ini, udah pasti nggak bakal dicopet Kak! Apalagi kalo pake kaos yang tulisannya Letarus—Lemot Tapi Rusak, itu dari Bogor sampe Jakarta semua anak jalanan udah tau!’ Ibu-ibu di sebelah saya ikut berkomentar, ‘Iya tuh, mereka punya seragam sendiri, misalnya kalo hari Sabtu pake baju warna coklat, hari Selasa pake item.. Gitu.’
Ia juga memperingatkan kami, para pengguna kereta api, ‘Kereta yang sekarang kan Commuter Line ya Kak, kan ada gerbong khusus wanita, itu sebenernya ga ngefek Kak, soalnya copetnya cewek. Itu mau ngambil dompet dari kantong celana belakang aja ada doanya. Kalo cewek biasanya pake hipnotis Kak, disenggol aja kakinya…’ Sembari memperagakan proses penyenggolan kaki yang biasa dilakukan oleh para copet perempuan, ia melanjutkan, ‘Makanya kalo mau naik kereta tu baca An-Nas sekali sama surat Qulluallahuahad tiga kali, pasti ga bakal kena.’
***
Mari saya perkenalkan dengan Rosit. Usianya tujuh belas tahun. Ia putus sekolah ketika duduk di bangku SMA kelas dua. Dia punya dua orang kakak dan empat orang adik, alias tujuh bersaudara. Ayahnya sudah sembilan tahun pergi dari rumah dan tidak memberi kabar. Meski punya rumah sendiri, ia lebih suka main dan menghabiskan waktunya di rumah singgah. Mudah sekali untuk mengenali Rosit, karena ia punya tato besar berwarna merah, hijau, dan hitam; menghiasi setengah pergelangan tangan, dada, dan punggung. Ia bercerita, ‘Kakak saya juga punya tato, Kak.’ Ia juga bercerita kenapa ia berhenti dari sekolah, ‘Soalnya karena pergaulan juga Kak, kakak-kakak saya berhenti sekolah. Sekarang yang sekolah tinggal adik saya, dia masih SD.’
Satu hal yang saya catat dari Rosit adalah dia mau mengajarkan saya caranya menyablon kaos. Ia bilang, ia diajari caranya menyablon ketika ikut pameran UKM beberapa bulan yang lalu. Saya lihat, dengan telaten dia memasangkan papan-papan kayu ke dalam kaus-kaus berwarna putih yang telah disediakan. Dia menjelaskan caranya menyablon dengan cetakan yang sudah tersedia. Dia menumpukkan kaus-kaus yang sudah siap disablon dan berkata kepada temannya untuk membiarkan saya mencoba mempraktekkan teori yang sudah diajarkannya. Caranya menjelaskan, caranya menerangkan, caranya menunjukkan, membuat saya tidak tega untuk berterus terang, kalau sebenarnya saya sudah tahu caranya menyablon sejak duduk di kelas 6 SD.
Satu hal lain lagi yang patut dicatat dari Rosit adalah, dia takut dokter gigi! Saya berkali-kali harus mengejarnya untuk menyeretnya ke depan dokter gigi. Sialannya, begitu giginya selesai diperiksa, ia berkomentar, ‘Oh, cuma gitu doang?’ Yeee!
***
Terakhir, mari saya perkenalkan dengan Komprang. Saya tidak tahu nama aslinya karena ia menolak memberitahunya. Lagipula ia senang dipanggil Komprang. Saya tidak tahu berapa persis usianya, namun karena ia sudah memegang SIM A, seharusnya ia berusia di atas 17 tahun kan? Sebenarnya saya jadi kenal Komprang karena dia mengantarkan saya mencari bis nomor P 9 A menuju Bekasi Timur. Ketika saya bertanya pada Beler, angkutan umum apa yang harus saya ambil untuk mencapai Cawang, ia menjawab, ‘Naik Kopaja 91 Kak, turun di Gereja, nanti dari Gereja nyebrang ke arah Senen, dari situ banyak bis P 9 A!’ Entah karena kasihan melihat wajah saya yang melongo, entah memang karena dia baik hati, dia menambahkan, ‘Atau biar gampangnya, nanti Kakak dianterin aja sama Komprang, dia kan bawa mobil, biar gratis Kak!’
Memang sejak tadi sepertinya informasi bahwa Komprang membawa mobil ini jadi pertanyaan besar buat beberapa orang dari kami para relawan pendamping. Namun, pertanyaan tersebut terjawab: Komprang adalah seorang supir Kopaja nomor 61. Saya lihat dia: muda, terlalu muda, untuk menyetir mobil Kopaja. Kita yang biasa naik angkutan umum tentu tahu bagaimana para supir Kopaja beraksi. Sepertinya cuma Tuhan yang bisa memperingatkan mereka untuk mematuhi aturan lalu lintas. Ketika mengejar bis pun (beneran ngejar ya, ngeeenngg), dia tidak sabar untuk menunggu lampu merah berganti hijau, dan ketika lampu merah masih berwarna merah, ia pun memacu motornya, memanggil kenek bis yang serta merta menghentikan laju bisnya, dan langsung mendorong saya untuk naik ke atas bis.
***
Dari empat jam bersama mereka, saya belajar bahwa keseharian mereka tidak jauh berbeda dengan keseharian remaja pada umumnya. Mereka bertengkar, bercanda. Mereka punya geng—apalah bedanya dengan kita yang ketika masih SMA suka janjian pakai baju warna apa ketika mau pergi ke mall? Ada yang mengasuh adiknya, mengantar ke sekolah dan menjaga supaya adiknya tidak bolos—apalah bedanya dengan saya yang menjaga adik saya supaya benar-benar les dan bukannya malah makan di Hoka-Hoka Bento dengan teman-temannya? Ada yang putus sekolah karena lingkungan—apalah bedanya dengan saya yang ketika remaja dulu ikut-ikutan masuk universitas negeri untuk kuliah? Ada yang takut ke dokter gigi—apa bedanya dengan sebagian besar dari kita yang lebih suka sakit hati daripada sakit gigi?
They strive, they struggle, they live; that’s what they are. Keseharian mereka tidak berbeda jauh dengan kita. Sebagian dari mereka, seperti yang saya lihat, bukan para peminta. Mereka punya mental berusaha untuk bisa—dan jadi juara.
Jadi, yuk mari kita tidak lagi melihat mereka sebagai orang asing di jalan—mereka anak-anak, mereka tidak berbeda jauh dari kita, mereka punya mimpi dan cita-cita, mereka punya keseharian yang hampir sama dengan kita. They simply live, and not afraid to.
Terima kasih, Shoebox Project, untuk salah satu ngabuburit yang paling menyenangkan dan berisi yang pernah saya jalani.
