!@#$%^&*()!!!!!!!!!!
05 Sep 2011 Leave a Comment
Berkat dua minggu salah urat dan sepuluh menit mencoba memperbaikinya dengan mengurut, saya terpaksa menghabiskan seminggu berikutnya dalam banyak sumpah serapah yang bisalah dirangkum dalam sebuah kalimat: !@#$%^&*()!!!!!!!!!!
Uraian kisahnya begini: selama dua minggu saya merasakan sakit di bagian jempol tangan sebelah kanan, hanya saja sakit itu berupa nyeri ringan, tidak signifikan. Saya masih bisa beraktifitas, masih bisa menggunakan tangan saya untuk melakukan kegiatan sehari-hari, meski tentunya ada rasa nyeri sedikit. Ketika dua minggu telah berlalu, saya pikir, alangkah anehnya saya yang masih mencoba membiarkan rasa sakit ini. Karena meskipun tidak signifikan, tetap saja ada yang tidak beres dengan tangan saya kan? Oleh sebab itu, pada suatu malam, saya mencoba untuk memperbaiki sendiri tangan saya… yang rupanya menjadi salah satu kesalahan terbesar dalam hidup saya.
Saya mengoleskan minyak urut dan mengurut sendiri sumber nyeri yang terletak di jempol tangan kanan ini. Ternyata ada tonjolan—sepertinya memang ada urat yang bergeser atau tertarik dan pindah seenak jidatnya ke rumah urat tetangga. Rasa sakitnya langsung berkurang—tapi hanya semalam. Keesokan paginya, tangan saya jadi dua kali lebih sakit daripada sebelum-sebelumnya. Oleh sebab itu, saya segera menempelkan koyo super panas. Tak dinyana-nyana, siangnya di kelas, ukuran jempol saya sudah berubah jadi seukuran paha ayam. Tidak hanya itu, seluruh jari tangan saya juga bengkak dan rasa sakitnya menjalar hingga ke lengan; berdenyut-denyut, panas, dan menusuk. Siang itu juga, saya langsung pergi ke rumah sakit dan mendapati kenyataan pahit: saya sudah ‘merusak’ tangan saya. Berkat pengurutan tradisional yang saya lakukan sendiri di rumah, jaringan yang bergeser di dalam kulit dan daging saya telah meradang dan infeksi. Saya harus minum obat anti radang dan mengoleskan salep khusus ke jempol saya.
Teman-teman, sakitnya bukan main—dokter sudah memperingatkan saya untuk tidak lagi mencoba-coba mengurut sendiri (yang sebenarnya sudah tidak perlu dikasitahu, yakali). Ia juga sudah memperingatkan saya bahwa rasa nyeri yang akan saya rasakan akan lebih sakit daripada rasa nyeri gores di kulit luar. Jadi, selama seminggu berikutnya, kalimat yang paling sering saya ucapkan adalah !@#$%^&*()!!!!!!!!!!
Saya mengucapkan !@#$%^&*()!!!!!!!!!! ketika harus mengancingkan baju atau mengambil tas; membisikkan !@#$%^&*()!!!!!!!!!! ketika harus mengetik atau menulis di papan tulis; mendesahkan !@#$%^&*()!!!!!!!!!! ketika membayar uang tiket kereta. Banyak hal yang tidak bisa saya lakukan karena cedera ini; dan satu hal yang saya sadari adalah betapa pentingnya posisi si jari jempol tangan kanan. Saya jadi menyadari fungsi jari jempol sebagai grip—pegangan.
Betapa seringnya saya mengucapkan (atau lebih tepatnya meneriakkan) !@#$%^&*()!!!!!!!!!! Saya terpaksa mencelupkan kepala saya ke dalam gayung karena tidak bisa mengangkat gayung. Saya terpaksa keramas dengan tangan kiri. Saya tidak bisa menulis dengan tangan kanan, akibatnya para mahasiswa baru harus puas melihat tulisan saya yang seperti ceker ayam di papan tulis. Saya jadi tidak nafsu makan, karena saya harus makan dengan tangan kiri. Saya terpaksa bolos puasa tiga hari karena harus minum obat anti nyeri. Saya hanya bisa meringis selebar-lebarnya sambil memaki dengan kalimat !@#$%^&*()!!!!!!!!!! dalam hati ketika eyang saya—dan sekompi saudara-saudara lainnya—dengan penuh semangat lebaran menggenggam tangan kanan saya, mengucapkan minal aidin walfaidzin, tanpa sadar bahwa saat itu, mereka telah menorehkan satu hal baru yang harus saya maafkan di lebaran tahun depan.
Some things only happen to some people—I’ve been warning you, People. Pelajaran utama dari pengalaman hidup saya adalah: 1) Jangan pernah lagi remehkan pengetahuan urut-mengurut, 2) Terkait dengan pelajaran pertama: jangan sembarangan mengurut, dan 3) Jangan celupkan kepala ke dalam gayung karena air bisa masuk lewat hidung.
Sekian cerita saya kali ini, sampai ketemu di lain hari!