Another Daily Lesson
02 Oct 2011 Leave a Comment
in Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur, Kisah tentang Belajar
Sudah dua minggu ini saya tinggal di Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Di kota ini, saya bertugas untuk membuat sekolah model yang akan ditiru oleh 29 sekolah imbasan. Hari ini, saya tidak akan bercerita mengenai pekerjaan saya, tapi seseorang yang terkait dengannya.
Namanya Ibu Yoga. Ia adalah seorang pemilik warung makan di seberang rumah, yang dengan suka hati dan suka cita saya nobatkan sebagai malaikat karena kepandaiannya memasak dan hobinya memberikan bonus dalam pesanan makanan yang saya beli. Pernah, saya dan Mbak Manda (partner kerja saya) ke warungnya untuk makan malam dan ternyata ikan goreng yang kami pesan sudah habis. Ia meminta maaf dan menawarkan kami ayam goreng saja. Karena memang tidak ada pilihan lain, kami pun mengiyakan saja. Ketika pesanan datang, ternyata ia menambahkan beberapa potong udang goreng. Padahal, kami tahu bahwa satu porsi ayam goreng jelas tidak termasuk udang goreng karena kami pernah makan hidangan yang serupa sebelumnya.
Kemudian, sembari kami makan, beliau ikut duduk di meja kami. Ia bertanya, apakah kami bisa memberikan pelajaran bahasa Inggris untuk anaknya yang sudah duduk di kelas 5 SD, namun sama sekali tidak bisa pelajaran bahasa Inggris. Saat itu, kami belum bisa mengiyakan karena pekerjaan kami yang membuat kami tidak selalu berada di rumah. Bahkan, seringkali kami pergi pagi dan pulang malam. Namun sebenarnya, saya sendiri enggan; enggan karena membayangkan betapa tambahan pekerjaan ini akan merepotkan. Di pikiran saya ketika itu, dengan sembilan pelatihan, observasi kelas harian, kunjungan mingguan, dan laporan laporan laporan, semuanya harus selesai dalam waktu tiga bulan, kenapa saya masih harus meluangkan waktu untuk sesuatu yang memungkinkan saya tidak dapat menyelesaikan pekerjaan?
Hingga kemudian beliau melanjutkan ceritanya. Ia punya dua orang putra. Putra pertamanya sudah duduk di bangku kelas 5 SD. Anaknya pernah mengalami kecelakaan; sewaktu bayi tangannya tergilas motor. Akibatnya, jemari tangan kirinya hilang dua. Anak ini, ceritanya dengan penuh kebingungan dan ketidakhabispikiran seorang ibu, tidak mau belajar. Disuruh belajar malas sekali. Nilainya jelek-jelek. Baru sekarang, ketika si ibu memutuskan anaknya harus ikut les, nilainya membaik. Kata si ibu yang naif, ‘Saya ini tidak bisa apa-apa Mbak, saya ini bodoh. Saya pengen anak-anak saya kayak Mbak. Pinter-pinter, sudah kerja.
‘Semua wali kelasnya saya datangi Mbak, saya tanyakan apakah anak saya nakal di kelas. Apakah anak saya belajar di kelas. Kalau di rumah kerjaannya bongkar mainan, mau mainan mahal atau mainan bagus sama saja, jadinya pasti dia bongkar. Ya saya diemin aja meski tante-tantenya marahin dia. Ya siapa tau dia jadi mekanik atau apalah.’ Kemudian, ia melanjutkan, ‘Kemarin, dia minta laptop. Saya bilang sama dia, “Siapa yang mau ngajarin kamu pake laptop? Bapakmu, Ibumu, nggak ada yang bisa ngajarin kamu.” Kalau dia ke warnet itu Mbak, saya selalu tanya, “Memangnya kamu bisa apa?” Trus dia jawabnya, “Bisa.” Coba, dia belajar darimana?’ katanya kepingin.
Terdiam, sunyi yang membuat saya jengah, dia kembali bertanya, ‘Mbaknya… ini, lulus ya?’ Bengong. ‘Maksudnya.. Lulus kuliah?’ tanggap saya. ‘Ya, iya. Lulus kuliah?’ ‘Iya,’ jawab saya, dan pertanyaan berikutnya yang membuat saya luluh, ‘Kalau.. mau kuliah, harus SMA dulu-kah? Kalau SMK, boleh kuliah?’
Ia tidak perlu meneruskan kalimatnya. Saya sudah bisa membaca di wajahnya apa yang ia inginkan.
Bertemu dan mengobrol dengan Ibu Yoga membuat saya tersentak, bahwa sekolah bukan lagi hanya tentang guru, tentang murid, tentang mendapat nilai bagus. Sekolah juga tentang harapan. Harapan seorang, dua orang, tiga orang ibu yang kepingin anaknya ‘lebih’ daripada dirinya. Lihat sekeliling kita. Pulanglah ke rumah, lihatlah mereka, dua orang yang paling mencintai kita di dunia, berharap kita menjadi seseorang yang hebat; berharap anaknya pintar, berharap anaknya punya banyak teman, berharap anaknya disayang gurunya, berharap anaknya dapat nilai bagus. Berharap kita menjadi seseorang yang luar biasa; supaya nantinya bisa mereka pamerkan dan banggakan kepada Tuhan, ‘Hei, Kamu tidak salah menitipkan dia kepada saya. Lihatlah dia.’
Dalam seketika, pekerjaan saya bukan lagi tentang sederet pelatihan dan laporan. Dalam sesaat, pekerjaan saya menjadi lebih indah.
Kami bangkit. Sembari mengenakan sandal, ‘Saya kosong hari Jumat. Ibu datang saja selepas maghrib ya.’
Untuk Bapak dan Ibuku, lihatlah aku disini, berusaha mewujudkan harapan kalian, dan harapan seorang ibu lainnya.