Tidak Sopan Santun?
30 Nov 2011 Leave a Comment
This is just a short one: saya agak terganggu jika ada orang yang mengasosiasikan kata ‘tidak tahu sopan santun’ dengan ‘primitif’. Misalnya, ‘Nggak tau sopan santun, dasar orang primitif!’ Atau ‘Kelakuan nggak ada sopan-santunnya, orang primitif kali ya?’
Kenapa?
Karena sopan santun adalah cara manusia untuk bertahan hidup dalam sebuah lingkungan sosial. Dalam sebuah lingkungan sosial, manusia hidup dengan manusia-manusia lainnya, dalam sebuah aturan yang disepakati bersama. Jika seseorang tidak mau mengikuti aturan ini, maka dia akan dikucilkan, dicemooh, atau lebih ekstrim, dikeluarkan.
Contohnya: jika sendirian, tentu tidak apa saya mengupil. Namun jika sedang bersama dengan banyak orang, misalnya di tengah acara akad nikah teman, saya ngupil, tentu akan ada orang-orang yang baik secara langsung ataupun tidak akan menegur saya. Artinya apa? Orang-orang yang berkumpul dalam acara akad nikah itu menyetujui bahwa ngupil bukan suatu tingkah laku yang pantas dilakukan; dan saya sebagai salah satu orang yang sedang berada dalam acara itu harus mengikuti aturan jika ingin tetap berada di acara tersebut. Jika saya tidak mengikutinya, saya akan dicemooh orang. Saya akan mendapat teguran. Parahnya, saya akan diusir sebelum bisa ikut antre makan.
Mengikuti aturan sosial dalam sebuah lingkungan masyarakat sudah ada sejak manusia mengenal yang namanya hidup berkelompok. Jadi entah zaman manusia masih tinggal di goa, tinggal di tenda, tinggal di rumah kayu, atau tinggal di apartemen seperti tren skarang, sama saja: asal tinggal bersama dengan sekelompok orang lain, maka kita harus mematuhi aturan yang berlaku di dalam lingkungan tersebut. Bahkan, kita harus bersama-sama menjaga agar peraturan yang ada dipatuhi oleh tiap anggota masyarakat yang tinggal bersama-sama dengan kita.
Jadi, kesimpulannya, bersopan santun tidak ada hubungannya dengan primitif atau modern. Kalaupun mau ngatain orang, mungkin sebaiknya begini, ‘Dasar tidak tahu sopan santun! Biasa hidup sendiri kali ya?’ akan terdengar lebih masuk akal dan jelas tidak akan mendiskreditkan manusia-manusia nenek moyang kita, yang kita cap sebagai primitif.
Selamat malam, sampai ketemu di cerita selanjutnya!