Hana Sang Finadi #4
01 Jun 2011 Leave a Comment
by livethefullest in Hana Sang Finadi: The Stories
Namun kami bukannya berhenti dan berdiam. Seminggu kemudian, liburan semester genap dimulai. Libur sepanjang tiga setengah bulan itu dibuka oleh aku yang mengantar gadisku latihan menari di sebuah studio. Sepagian, sesiangan, dan sesorean aku menungguinya. Tak perlu tanya lelahnya, karena aku tak lelah apalagi jemu. Malamnya, sebelum mengantarnya kembali ke rumahnya di bilangan Pamulang, aku dan dia mampir ke sebuah toko buku dan kami saling membelikan buku. Hana membelikan aku The Story of Pi, dan aku membelikannya Brisingr. Keesokan paginya giliran Hana yang menemani aku lari pagi di Senayan, dan siangnya kami makan eskrim Ragusa. Malamnya, di kamar masing-masing, aku membaca buku yang diberikan oleh Hana sementara Hana membaca buku yang diberi olehku. Malam sudah larut ketika akhirnya aku menyerah dan mengucapkan selamat tidur padanya.
Aku terkejut mendapati betapa mudahnya tertawa di samping Hana. Aku terkejut mendapati betapa bencinya dia pada angka; aku sadar betul gadis ini jenius dalam menari dan berolahraga, namun kau lihat wajahnya ketika harus berhadapan dengan pemecahan masalah angka sederhana. Keningnya akan berkerut dan bibirnya akan mengerucut ketika aku memintanya menghitung uang kembalian tol. Ia gusar, dan kegusaran itu kembali menjadi-jadi ketika lembaran uang di tangannya terlepas dan terjatuh tidak beraturan ke pangkuan dan lantai mobil.
Aku suka sekali melihatnya berbicara, karena tubuhnya akan ikut bergerak mengikuti ceritanya; tangannya akan bermain membentuk gerakan-gerakan yang juga dapat bercerita. Ia suka sekali merangkulku dari samping dan meletakkan kedua telapak tangannya di wajahku, lalu tertawa karena aku pasti langsung mundur karena kaget. Aku tidak pernah terbiasa.
Kami menciptakan beberapa permainan. Misalnya adu pantun.
Aku suka sekali melihatnya menari dalam balutan baju menarinya yang berwarna hitam. Sepatu tutunya berwarna pink. Stokingnya berwarna putih. Rambutnya digulung ke belakang, dikumpulkan menjadi sebuah gumpalan mungil. Sisa rambutnya yang bandel dijepit ke belakang. Wajahnya bersih, matanya tersenyum, bibirnya tertawa.
Hana Sang Finadi #3
24 May 2011 Leave a Comment
by livethefullest in Hana Sang Finadi: The Stories
Aku melihatnya menari malam ini. Dan ia sungguh spektakuler. Supernova. Bom. Hentakan dan ledakan, gemuruh tepuk tangan; aku mengusap mataku dengan kedua punggung tanganku ketika adegan ia terjauh dan meraung. Aku merinding ketika ia berputar-putar, dan terhenti. Ia duduk terjongkok, lampu sorot menerangi sosoknya.
Aku selalu melihat hidup dan hari yang kujalani seperti sebuah tayangan yang tak ada habis dan akhir. Selalu seperti itu, dengan naskah yang kusiapkan. Itu, sebelum aku bertemu dengan Hana. Karena sejak bertemu dengannya, aku bukan lagi penulis naskah tayangan hidupku. Hana berubah menjadi penulis, sutradara, produser, pemeran utama, pemeran pembantu, penata letak, pengarah gaya, penata musik, editor, semua. Hana Sang Finadi.
Hana Sang Finadi. Hana Sang Finadi. Hana Sang Finadi. Hana.
‘Hai,’ sapanya ramah sore itu. Hujan turun deras, memberkahi hari.
Selalu hujan, batinku, lalu menjawab sapaannya, ‘H-hai.’
Hana melirikku geli. Ia memberikanku senyuman, kemudian bangkit dari duduknya.
‘Mau kemana?’ tanyaku buru-buru.
Hana melirikku lagi. ‘Memangnya kenapa?’
Aku tertunduk. Aku tahu ia menatapku bingung, matanya mencari mataku yang kini memandangi sepatu kanvasnya yang berwarna putih bersih. Sepuluh detik berlalu. Aku merasakan kelegaan dan kekecewaan yang besar ketika kakinya melangkahkan telapaknya menjauh, namun kaget, kaki itu hanya bergeser selangkah. Karena Hana kembali duduk di tempatnya semula sebelum aku menghampirinya sepuluh menit yang lalu.
Ia tidak jadi pergi. Ia memilih untuk tetap di sampingku.
Pasti karena penasaran, pikirku takut. Aku harus bilang apa?
‘Hujan,’ gumamnya jelas di telingaku.
‘Hah?’ ujarku kaget, bangkit dari ketertundukanku.
‘Hujan,’ ulangnya, dengan suara yang lebih keras. ‘Hujan lagi.’
‘Emang kenapa?’ tanyaku. Aku merileks. Ini akan jadi pembicaraan yang aman.
‘Basah,’ jawabnya geli. Matanya berhasil mendapatkan mataku… Ah, sial! Aku tak bisa menahan diri untuk tidak menunduk. Hana menyembunyikan tawanya. Aku tahu itu. Ia sengaja membuat aku kikuk.
‘Basah,’ ulangnya. ‘Bukannya nggak suka, tapi hujan melulu, kasihan mataharinya.’
‘Maksudnya?’ buruku. Tapi aku tak mengangkat kepalaku. Aku tetap memandangi sepatu kanvasnya yang putih. Eh. Aku sudah bilang ya kalau sepatu kanvasnya berwarna putih bersih?
‘Matahari,’ ulangnya. ‘Juga ingin bersinar. Tapi itu menurut aku.’
Aku menunduk semakin dalam. Aku tahu, ia akan menanyakan pendapatku.
‘Kalo menurut kamu gimana?’
Kan. Ia sungguh menanyakan pendapatku. Aku bingung. Aku harus jawab apa? Dengan jawaban santun? Jawaban cerdas? Atau jawaban bodoh? Aku bingung. Aku harus jawab apa?
‘Ganesha,’ panggilnya. ‘Enaknya manggil kamu pake panggilan apa ya?’
‘Memangnya kenapa?’
‘Habis nama kamu tiga suku kata. Kan lebih enak kalo jadi dua suku kata.’
Nah, nah. Ini terlalu dekat. Aku baru mengenalmu, Nona, jangan sok akrab…
‘Hujan. Kupanggil kamu Hujan. Sebab aku pertama kali melihatmu ketika hujan.’
Matanya kembali mencari mataku. ‘Kamu inget ga sih waktu kita pertama kali ketemu?’
Astaga! Ia bertanya, kamu inget ga sih waktu kita pertama kali ketemu? Demi Tuhan manapun, gadis ini!
‘Kalau begitu, kupanggil kamu Matahari,’ kataku kasar. ‘Karena kamu lebih suka matahari daripada hujan.’
Hana kembali mencari mataku. Ia gusar. ‘Kenapa sih kamu nggak sopan?’ tanyanya kesal. ‘Emangnya kamu pikir enak ya ngobrol kayak gini?’
‘Kayak gimana?’ balasku. Aku tahu aku bukan teman mengobrol yang baik, kuakui. Tapi aku ingin berubah. Untuk Hana.
Aku menatap matanya untuk pertama kalinya, dan itu dia, kami sama-sama diam. Aku tahu ia jatuh padaku seperti aku jatuh padanya. Semburat merah menghiasi pipi, kening, hidung, dan telinga Hana, kemudian gadis itu berdiri dan berlari ke dalam.
Sementara aku? Kepalaku pusing tujuh keliling. Aku bahkan lupa caranya bernapas.
Hana Sang Finadi #2
24 May 2011 Leave a Comment
by livethefullest in Hana Sang Finadi: The Stories
‘Hana artinya bunga,’ gumamku pada gadis ini. Hana menoleh. ‘Ya,’ sambutnya ala kadar. Ia sedang mengganti sepatunya dengan sepatu kanvas putih. Baju menarinya telah digantikan selembar kemeja sopan berwarna putih dan celana jins pendek. Ia mengencangkan tali sepatu kanvasnya. Tak kuduga, ia mengulurkan tangan dan berkata, ‘Hana. Kedokteran. 2005.’
Aku tergagap. Aku menyebut namaku tanpa menyambut uluran tangannya. ‘Ganesha. Sosio. 2007.’
Hana tersenyum, menarik tangannya dengan cepat, mengangkat tasnya, dan melenggang pergi. Kulihat tubuhnya berjalan sempurna. Kulihat kakinya yang melangkah anggun. Kulihat tangannya yang melentik dan senyumnya yang segera hilang ketika melangkah ke balik pintu. Kulihat Hana Sang Finadi masuk ke dalam hujan deras yang segera mengguyur rambutnya tanpa ampun. Dan ia menghilang ke dalam sebuah mobil mahal berwarna merah.
Ini dia gadisku.
Aku tidak tahu apa dan siapa Hana Sang Finadi, maka keesokan siang, aku membuka Google. Kutemukan Hana Sang Finadi dengan mudah. Kutahu ia kuliah di FK. Kutahu ia adalah anak perempuan utama, dan hanya punya seorang adik lelaki. Ibunya mantan atlit renang, ayahnya pilot. Kutahu ia sudah berhenti menari di gedung dan konser, dan ia hanya menari malam ini karena rektor sendiri yang memintanya. Khusus. Betapa gadis ini spesial.
Namun kutahu ia spesial ketika aku melihat matanya, ketika meraung di malam gladi resik, di malam aku pertama kali melihatnya, di malam ketika aku melihatnya melambung dalam euforia tarian, di malam ketika aku melihatnya masuk ke dalam tarian yang dibawakannya. Merana dan tergugu, aku melihatnya menangis, sungguh menangis, dan kudapat perasaan aneh bahwa ia, sesungguhnya, sungguh-sungguh menangisi kekasihnya yang pernah meninggalkannya.
Dan perasaan itu benar-benar terasa hingga kekasihnya akhirnya berhenti berlari menjauh dan akhirnya kembali padanya di akhir cerita.
Dongeng.
Hana Sang Finadi #1
24 May 2011 Leave a Comment
by livethefullest in Hana Sang Finadi: The Stories
Aku pertama kali melihatnya pada suatu malam di bulan November yang basah. Hujan deras menyerang kota kami dan aku beserta teman-temanku terperangkap di gedung serba guna universitas tempat kami berteduh. Kami baru saja selesai menyiapkan panggung untuk pertunjukan yang akan diadakan esok malam untuk menghormati rektor universitas kami, dan persiapan itu sudah selesai sejak berjam-jam yang lalu. Rencananya kami akan makan malam bersama, namun hujan menghujam, dan serombongan penari masuk ke dalam gedung, sehingga kami memutuskan untuk tinggal.
Aku menyesal melakukannya.
Karena disanalah ia, tidak tampak, namun menjadi gemilang ketika telah mengganti kostumnya. Aku tidak tahu kapan ia datang. Aku bahkan tidak pernah melihatnya sebelumnya, meskipun teman-temanku mengatakan, ia adalah penari balet terkenal. Aku tidak kenal. Tanpa persiapan apapun, tanpa ampun, aku tak bisa melepaskan pandangan mataku ketika ia mulai menggerakkan kakinya. Mengangkat kedua tangan dan menerbangkan tubuhnya, jauh, jauh di atas bayanganku mengenai bagaimana seseorang seharusnya menari.
Aku tahu ini karena kakak perempuanku adalah seorang penari. Tapi bukan tarian seperti yang gadis ini bawakan.
Lagu pengiringnya bukan musik klasik. Tanpa iringan biola atau dentingan piano, gadis ini dan pasangannya menarikan sebuah tarian yang dilatari sebuah lagu terkenal yang berjudul ‘When You Say You Love Me’. Lagu ini dibawakan oleh Josh Groban.
Aku tidak tahu makna tariannya, tapi aku tahu apa yang kurasakan ketika mereka berdua menari, menyatukan langkah, meleburkan emosi, dan ya, meneteskan air mata ketika sampai di adegan perpisahan, dimana sang lelaki meninggalkan si wanita, dan wanita ini, jatuh terduduk, dan bangkit, berjalan selangkah dua, dan kemudian menjatuhkan diri kembali, dan bangkit lagi, kini menyeret kakinya, mengejar kekasihnya, dan terjatuh lagi, untuk kembali bangkit, berdiri, meraung. Aku kaget gadis ini sungguh mengeluarkan suara raungan, membungkukkan tubuhnya, melipat tangannya. Telapak tangannya menutupi kedua wajahnya. Rambut di kedua sisi kepalanya terurai kecil. Kakinya menyilang. Ia tak kunjung bangkit dari posisinya, dan tiba-tiba ia berdiri tegak, berlari ke arah kekasihnya yang berada di ujung panggung, dan tiba-tiba gadis ini kembali terbang, didukung oleh kekasihnya yang mengangkat tubuhnya ke atas.
Musik berhenti.
Hana Sang Finadi. Itulah namanya. Gadis ini. Gadisku.