The Sweetest Text Message

Tiba-tiba, saya menerima pesan singkat yang isinya seperti ini:

‘Kmi cmw kgen dgn msa2 teater dlu, skrg sdh g seindh wkt ad k2. Dah ga ad lgi yg mrh, dah g ad lg yg moto2 kta, dah g ad lgi yg muji2 kta, dn msih bax lgi… Pda saat smx b’lalu, km smw bru mexdari bhwa momen2 sp’ti it sgt mngesnkn bwt kmi. Dn kmi srasa ingn menglangix lgi dn g akn kmi biarkn k2 p’gi.’

Artinya:

‘Kami semua kangen dengan masa-masa teater dulu, sekarang tidak seindah waktu ada Kakak-Kakak, sudah tidak ada lagi yang marah, sudah tidak ada lagi yang motret kita, sudah tidak ada lagi yang muji-muji kita, dan masih banyak lagi… Pada saat semuanya berlalu, kami semua baru menyadari bahwa momen-momen seperti itu sangat mengesankan buat kami. Dan kami serasa ingin mengulanginya lagi dan ga akan kami biarkan Kakak pergi.’

That is the sweetest text message I’ve ever received. :)

Sepotong Kisah di Suatu Hari

Sebenarnya aku sudah mulai bisa mencintai Merauke. Aku sudah sangat menyukai Merauke ketika pertama kali mengunjungi tempat ini bulan Juni 2010 lalu. Ketika itu aku langsung jatuh cinta pada langit kosongnya, dengan rawa berair di kanan-kiri, gerombolan pohon yang merapat dan menjarang dan merapat lagi, lalu bunga teratai berwarna merah jambu dan ungu, lalu ada burung bangau putih yang sekali-kali muncul dari balik pohon. Ada kekosongan yang rasanya akrab. Dan ketika malam hari, langitnya bersih, langitnya cantik dengan banyak bintang yang sedang pamer diri, aku bilang: Tuhan itu jeniusnya tidak masuk akal.

Beberapa hari disini, ada beberapa hal baru yang aku pelajari. Pertama, kemarin siang ketika aku sedang duduk di beranda rumah depan, ada dua anak perempuan kecil. Keduanya bersahabat, sepertinya. Kemana-mana berdua. Satu berkulit putih, rambutnya lurus, dipotong pendek dengan poni rata depan. Sementara satunya rambutnya keriting ting ting, kulitnya pun gelap. Mereka berdua sedang sibuk bertengkar; yang satu maunya main salon-salonan, yang satu maunya main balap-balapan. Yang satu sedang pura-pura menyetir, sedangkan yang satunya lagi sibuk pura-pura mengeramasi rambut si supir. Dimataku, keduanya sama cantiknya.

Namun mungkin agak berbeda di mata seorang lainnya karena tiba-tiba ia berkata, ‘Hey, rambutnya keriting, berarti anak Suku ya?’—yang dimaksud dengan anak suku adalah anak asli suku Papua yang memang berambut keriting dan berkulit hitam. Cara orang itu mengatakannya seolah-olah ada pembedaan antara anak Suku dengan anak nonSuku (transmigran yang berasal dari luar Papua, umumnya dari Pulau Jawa); seakan bahwa anak Suku statusnya lebih rendah daripada anak nonSuku. Ini patut dicatat.

Hal kedua yang aku pelajari disini adalah kadar kesuburan tanah yang berbeda-beda, bahkan dalam satu lahan yang sama. Danramil Sota tadi pagi meminta mahasiswa pertanian untuk dikirim ke Sota jika tahun depan Sota menjadi titik tujuan K2N lagi. Ia bercerita bahwa tanah yang ada disini memiliki kadar pH yang berbeda-beda. Akibatnya, kesuburan tanah pun berbeda-beda. Sebenarnya kadar pH tidak hanya menentukan kesuburan tanah, namun juga jenis tanaman yang akan ditanam di lahan tersebut. Kupikir hal itu bisa ditanggulangi dengan penggunaan pupuk dengan jumlah dan jenis yang berbeda pada tanah dengan kadar pH tertentu, tapi itu kan baru bisa dilakukan jika kita sudah mengetahui tanah mana saja dengan kadar pH sekian.

Lalu kemarin istrinya menjelaskan caranya menanam semangka. Seluruh anggota TNI disini sepertinya berladang. Mereka menanam semangka, kol, petatas, melon, pare, timun, dan lainnya. Memang di tempat ini, buah dan sayur berlimpah. Sangat berbeda dengan kota Merauke yang minim sayur dan buah. Sekalinya ada sayur dan buah, harganya sangat mahal. Misalnya, sebuah semangka dihargai Rp 15.000,00.

Cara menanam semangka: biji ditanam, lalu tunggu 25 hari, kemudian diberi pupuk. Pemberian pupuk selanjutnya dilakukan setiap 2 minggu. Ibu ini berkata bahwa jika tidak diberi pupuk, semangkanya tidak akan manis. Oke Bu, aku dan Imma yang memang berencana untuk menanam semangka akan memperhatikan nasihat tersebut.

Aku sebenarnya ingin menanam kentang karena aku suka kentang. Aku ingin menanam bunga mawar di halaman depan rumah karena aku suka sekali bunga mawar. Aku juga ingin menanam cabe karena buahnya lucu-lucu, kecil-kecil. Mbak Uci bercerita bahwa ia pernah membawa bibit cabe rawit yang sangat pedas dari Papua ke rumahnya di Depok, dan tebak dong: buahnya tidak berukuran kecil dan rasanya tidak pedas. Rupanya memang jenis tanah mempengaruhi hasil tanaman.

Di Distrik Yanggandur, aku juga menemukan pohon kapas, pohon nangka, pohon sukun, pohon kayu putih, pohon mangga, pohon rambutan, dan pohon jeruk. Jadi jika ada anggapan bahwa tanah Papua adalah tanah yang miskin tanaman karena tanahnya sudah dipenuhi bahan tambang, itu salah besar. Justru masyarakat Papua sangat termanjakan oleh kondisi alamnya yang menyediakan hasil alam dalam jumlah yang berlimpah. Aku belum menyebutkan kangguru, saham, burung kasuari, dan daging rusa yang biasa diburu oleh warga, serta ikan dan udang yang ada di kali.

Lagi, sepotong kisah untuk dibagi. Sampai ketemu di kisah lain di hari lain!

Hidangan Pembuka

Perjalanan saya yang pertama ke Provinsi Maluku, tepatnya ke Desa Adaut yang terletak di Pulau Selaru, Maluku Tenggara Barat, memiliki potongan ceritanya tersendiri. Saya pergi ke sana dalam rangka menjalankan tugas sebagai pendamping lapangan peserta Kuliah Kerja Nyata (K2N) UI 2010. Desa ini adalah salah satu dari 10 lokasi tujuan K2N UI, dan saya beruntung karena mendapat kesempatan untuk mendampingi adik-adik saya ini.

Bagaimana caranya mencapai Desa Adaut? Menggunakan bis kuning (bis kuning adalah sebutan untuk bis yang khusus digunakan di dalam lingkungan kampus UI. Warnanya kuning dengan tulisan UNIVERSITAS INDONESIA di badan bis), kami berduabelas—sepuluh orang peserta, satu orang dosen pembimbing, dan satu orang pendamping lapangan—memulai perjalanan kami pukul 11 malam tanggal 1 Juli 2010, dan sampai di bandara Soekarno-Hatta tanggal 2 Juli 2010 pukul 12 malam. Setelah berjibaku dengan barang-barang logistik dan barang-barang pribadi, kami berangkat dengan menggunakan pesawat komersil menuju Ambon. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 4 jam. Dari Ambon, kami naik pesawat perintis menuju Saumlaki, ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Sesampainya di Saumlaki, kami kembali menempuh perjalanan laut dengan menggunakan kapal selama dua jam, melewati laut dengan ombak ganasnya yang mencapai ketinggian 3 – 5 m, dan Selat Egron. Barulah kami sampai di Desa Adaut, ibukota dari Kecamatan Pulau Selaru.

Pulau Selaru adalah salah satu pulau terdepan Indonesia; perbatasan laut dengan negara Australia. Desa Adaut, sebagai salah satu desa di pulau ini, memiliki gambaran sosial-ekonomi yang menarik di mata saya. Kabupaten Maluku Tenggara Barat sendiri, tampak jelas denyutnya sebagai kabupaten pemekaran yang baru saja terbentuk. Pembangunan tampak jelas di berbagai sudut kota Saumlaki, ibukota MTB. Gedung-gedung pemerintahan baru dibangun. Kini ada dua maskapai penerbangan—meski pesawat perintis—sehingga setiap hari ada pesawat yang keluar-masuk Saumlaki.

Selama kurang lebih 30 hari, saya mendampingi para peserta K2N UI 2010 ini berjuang, menjejak dan melangkah, tertatih, namun begitu riang dan polosnya, menyelesaikan satu, demi, satu, tantangan yang mereka temui tiap hari. Ada saja kejadian aneh yang saya saksikan. Misalnya, kelompok dengan program makanan ringan, berhasil membuat ampyang kacang—makanan ringan yang terbuat dari lelehan gula merah dan kacang tanah—yang enak, hanya saja ampyangnya melekat begitu erat di piring beling sehingga untuk memakannya, kami terpaksa mencungkilnya sedikit demi sedikit dengan garpu. Empat hari kemudian, barulah ampyang itu habis satu piring. Pelajaran: lain kali jangan mencetak ampyang dengan piring beling. Cukup gunakan daun pisang.

Seperti yang pernah saya katakan, begitu banyak kisah yang bisa digali dari setiap hari yang saya, yang kami, lewati. Indahnya matahari terbenam dan bayangannya di air, sehingga seakan ada dua matahari terbenam; pelangi sehabis hujan; pemandangan di belakang gereja di sore hari; belajar mengendarai kapal ting-ting; naik perahu motor membelah laut untuk melihat ladang rumput laut; demo masak; memandu senam lansia; karaoke di depan penduduk desa; melihat lumba-lumba berenang bebas di lautan lepas; dan berbagai macam pengalaman lain yang sedikit banyak membuat saya lebih mengenal diri sendiri.

Kisah-kisah berikutnya adalah tulisan yang berasal dari jurnal pribadi saya selama menjadi pendamping lapangan. Saya menulis jurnal harian itu untuk menginspirasi teman-teman peserta untuk terus menulis, karena ketika perjalanan selesai, maka salah satu cara untuk mengenang adalah melalui tulisan. Kini saya mempublikasikan cerita-cerita ini, hanya karena ingin berbagi dan menyebarkan pesan ini:

 

“Pergilah!

 

Jejakkan kaki ke luar, langkahkan mimpimu, lihatlah dunia dari mata mereka yang ada di luar kita. Jadilah bagian dari dunia para pejalan. Rasakan sensasi yang tentu dirasakan oleh Marcopolo, Ferdinand Magelhaens, atau Jack Sparrow.”

 

Semoga terhibur, dan semoga terinspirasi.

Our Days

Saya belajar menyetir, dan memahami mesin mobil. Saya belajar bahwa setiap pagi, saya harus memanaskan mobil, mengecek persediaan oli, dan mengisi ulang air radiator. Saya belajar untuk memperhatikan bagian belakang mobil ketika sedang mundur dan bukannya hal lain, karena ada beberapa hal di belakang mobil yang bisa tertabrak seperti parabola, tiang listrik, kebun semangka, atau pagar pos Kopassus. Saya belajar bahwa sebaiknya saya tidak memutar dalam gelap, karena saya bisa terjun ke dalam rawa bersama dengan mobilnya. Dan saya juga belajar bahwa menyetir off-road, meskipun kedengarannya keren dan macho dan jantan dan cowok sekali, sama sekali tidak lagi keren dan macho dan jantan dan cowok sekali ketika tiba saatnya mencuci mobil. Oh, saya juga belajar bahwa sebaiknya jumlah sabun yang digunakan untuk mencuci mobil hanya satu ujung jari, bukannya satu centong nasi.

Saya mempelajari bahwa ‘awat’ artinya adalah pesawat; ‘ambang’ dan ‘uruk-uruk’ adalah nama benda yang sama, dan kebetulan sekali, mereka adalah salah satu jenis lauk makan siang. Saya belajar untuk membuat pesawat kertas dalam kurun waktu 10 detik, dan mengajari anak-anak usia dibawah 7 tahun untuk membuat bangau dari kertas adalah hampir mustahil. Saya jadi tidak mudah panik ketika ada anak mimisan karena hidung memang salah satu anggota badan yang paling lemah dan mudah mengeluarkan darah, lagipula darahnya cepat sekali berhenti. Hanya saja saya juga belajar untuk benar-benar mengawasi mereka main petak umpet, atau main hantu-hantuan, main bola, atau memanjat pohon, soalnya sepuluh menit kemudian mereka bisa main jeduk-jedukan kepala, dan begitulah kenapa mereka bisa mimisan.

Saya jadi tahu bahwa sebagian masyarakat transmigran dan masyarakat lokal punya dua cara berbeda untuk mempertahankan hidupnya: beberapa kaum transmigran yang ingin pulang lagi ke Jawa tinggal di rumah yang sangat sederhana, menabung dengan cermat agar bisa hidup enak di kampung halamannya sana. Mereka punya tiga atau empat motor bebek untuk bekerja, namun hanya makan nasi jatah dan sayur singkong. Kaum transmigran yang memutuskan untuk tetap tinggal di tanah Papua membangun rumah permanen. Sementara kebalikannya, beberapa masyarakat lokal malah jarang ada di rumah; beberapa malahan hanya ada di rumah selama beberapa hari dalam sebulan karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan di hutan.

Saya mencicipi rasa daging rusa—enak, lebih enak daripada daging sapi dan daging penyu, apalagi kalau disate—dan daging kasuari. Hanya saja perlu diingat betul kalau daging kasuari adalah jenis daging yang sangat alot, butuh waktu empat jam untuk mengolahnya hingga benar-benar bisa dikunyah. Dan saya juga belajar untuk benar-benar, benar-benar menunggui daging kasuari yang sedang direbus, bukannya ditinggal main The Sims 2, sebab bisa saja dagingnya gosong dan menyebabkan dapur dipenuhi asap.

Kasuari yang sudah mati memang enak, namun yang lebih enak lagi adalah menyaksikan burung kasuari yang masih hidup berkeliaran di jalan, hanya saja harus berhati-hati karena mereka adalah jenis hewan penyerang yang suka sekali mengejar sambil memperagakan kekuatan paruh dan kaki. Bicara tentang dikejar hewan, saya juga belajar dari pengalaman sendiri bahwa jika Anda dikejar sapi, maka sebaiknya Anda segera berlari dan menyelamatkan diri dengan cara mengesampingkan diri, bukannya malah berlari terus lurus. Soalnya sapi hanya berlari lurus. Dan mereka larinya cepat sekali. Sumpah. Saya sendiri saksi dikejarnya.

Baru kemarin, ketika saya sedang menyetir ke distrik dari kota, saya menyaksikan sendiri pemandangan ini: di langit sebelah kanan, senja sudah turun, dan artisnya adalah matahari bulat oranye, dan di langit sebelah kiri, langit malam sudah terpampang sedikit, dan artis pendatang barunya adalah bulan purnama, bulat penuh bundar, dan semakin gelap, semakin terang cahayanya dan cahayanya benar-benar berpendar. Eh tiba-tiba ada puluhan burung melintas, terbang ngebut, dalam bentuk formasi V cakep. Mereka sedang bermigrasi dan terbang secepatnya agar bisa sampai di rumah baru sebelum benar-benar gelap.

Saya juga jadi terbiasa menyaksikan para tentara berseragam lengkap, dan memerhatikan cara mereka menggulung lengan baju atau mengikat tali sepatu, dan memandangi mereka berkeliling sambil memanggul senjata laras panjang di punggung atau bahu. Saya juga jadi tahu bagaimana isi senjata itu—larasnya, pelurunya yang berwarna kuningan dan tajam, belajar menggenggamnya, dan mendengar senjata itu menyalak ketika ditekan pelatuknya. Saya mempelajari bahwa senjata-senjata itu berat—baik yang dipanggul di bahu yang biasa dibawa-bawa anggota satuan Batalyon Infanteri ataupun hanya diselipkan di pinggang, seperti yang biasa dibawa-bawa anggota Kopassus.

Saya bertemu banyak orang hebat; saya bekerja di bawah arahan seorang mantan bupati yang telah menjabat selama sepuluh tahun. Tubuhnya tinggi besar, kulitnya hitam, namun dia salah satu orang yang paling tegas, bijak, dan kuat hati yang pernah saya kenal. Saya presentasi dan mengobrol langsung dengan Wakil Menteri Pendidikan dan Menteri Keuangan; saya belajar bahwa mereka tak hanya cerdas, namun juga orang-orang yang menuntut tindakan nyata dalam setiap buah ide mereka. Saya mengobrol dengan seorang ibu, tetangga yang juga istri seorang guru, dan mendengarkan kisahnya membangun kediamannya selama empat tahap, mulai dari menjual bakso hingga baju, dan tidak lagi berharap pulang ke kampung halamannya di Lamongan, Jawa Timur. Saya mengobrol dengan seorang anggota Kopassus, yang memiliki seorang istri yang sedang hamil tua, dan bulan April depan akan melahirkan, dan harus melahirkan sendirian karena suaminya sedang bertugas. Saya mengobrol dengan seorang komandan Kopassus Jayapura, orangnya ganteng wajahnya, ganteng hatinya, dan halus sekali menyetirnya. Saya mendengarkan cerita dari seorang perempuan yang usianya lebih muda tiga tahun dari saya, dan sedang bekerja sambil kuliah sambil mengasuh anaknya yang telah berusia tujuh bulan, dan dia bahkan sedang hamil dua bulan. Tanpa suami, tanpa laki-laki, tanpa siapa-siapa.

Saya banyak belajar disini, dan saya mengundang kalian untuk meneguk pengalaman pembelajaran yang sama: sebulan, tiga bulan, setahun, disini saya menjamin kalian untuk belajar menikmati waktu, dan bukan lagi mengejarnya. Saya menjamin kalian dapat belajar untuk berteman dengan diri sendiri, dan melihat apa yang sebenarnya dapat kalian lakukan untuk orang lain. Kalian belajar untuk membantu orang lain dengan cara yang benar—metodis dan sistematis sesuai dengan bidang ilmu kalian masing-masing, dan saya mengundang kalian untuk kembali belajar menerjemahkan ilmu yang kalian dapat ke dalam tindakan kecil, sederhana, nyata, dan bermakna. Kalian bahkan akan mempelajari makna kata ‘membantu’.

Demikian, satu tugas telah selesai ditunaikan. Saya siap menunggu tugas berikutnya: tugas yang berbeda, tempat yang berbeda, serta puluhan kenangan lagi yang siap dibentuk dan dibagi. Bagaimana dengan kalian?

Sampai ketemu di kisah-kisah selanjutnya!

Our Job

Pada tulisan kali ini, saya ingin bercerita apa persisnya pekerjaan saya, dan bagaimana saya melaksanakan pekerjaan ini. Berdua, saya dan seorang teman bekerja di bidang pendidikan sejak bulan Oktober 2010 hingga sekarang di Desa Sota, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Kami bertugas untuk menyusun sebuah grand design program peningkatan mutu pendidikan dasar, yaitu membaca, menulis, menghitung, dan mengintegrasikannya dengan kegiatan menggambar, menyanyi, dan menonton film. Kami juga mengadakan kegiatan ekstrakurikuler teater untuk siswa SMP dan SMK serta mengoperasionalkan perpustakaan kecil bernama Pustaka Musamus. Tugas kami bukan mengajar, tapi mencari tahu bagaimana caranya meningkatkan kualitas pendidikan dasar melalui suatu kegiatan tertentu dengan pengambilan sampel di Desa Sota, Kabupaten Merauke, Papua.

Idealnya, proses penyusunan kegiatan atau program harus diawali dengan survei lapangan. Misalnya, program yang akan kami laksanakan di Desa Yanggandur, meskipun sebuah program replikasi dari Desa Sota, tetap harus disusun berdasarkan kondisi lapangan tempat program tersebut akan dijalankan. Untuk penyusunan program ini, hal-hal yang harus digali di lapangan adalah, pertama, kesiapan sebuah desa untuk menerima kehadiran program. Hal ini mencakup tempat tinggal petugas lapangan, tempat mengajar, dan apakah masyarakat mau menerima kehadiran pendatang di tanah mereka. Hal ini penting, sebab seperti yang sudah tergambar di survei lapangan hari ini, keputusan para pemuka dan ketua adat sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan program. Pengalaman saya ketika bertugas di Maluku dan Papua mengajarkan saya bahwa di samping aparat desa, pemuka adat memiliki pengaruh yang penting, bahkan mungkin lebih penting, dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi, penting diingat dan patut dicatat!

Kedua, gambaran kondisi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di daerah setempat. Misalnya, hal-hal yang detil seperti jumlah anak yang belum bisa membaca, jumlah guru, kendala mengajar di lapangan, metode belajar yang biasa digunakan oleh guru, dan apa yang kiranya perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah. Entah penambahan tenaga guru, pelatihan bagi guru, pengadaan les tambahan di luar jam sekolah, dan lain sebagainya. Penting sekali untuk berbicara langsung dengan guru-guru karena merekalah yang bersentuhan langsung dengan anak-anak sekolah. Mintalah mereka untuk bercerita, mintalah mereka untuk berbagi. Ajaklah mereka untuk berdiskusi mengenai apa yang benar-benar dibutuhkan oleh daerah tersebut untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Ketiga, tanyakan apakah pernah ada program serupa yang dilaksanakan. Jika ya, maka gali lebih dalam program seperti apa itu, siapa pelaksananya, apa tujuan dari program tersebut, seperti apa pelaksanaannya, dan menurut guru-guru tersebut, apa dampak dari pelaksanaan program. Contoh: dulu, ada mahasiswa PKL dari Universitas Cendrawasih yang mengajar di SD Sota dengan metode permainan. Ternyata dengan metode itu, anak-anak lebih rajin datang ke sekolah dan lebih giat belajar.

Selanjutnya, proses penyusunan rancangan program pun dimulai. Latar belakang dan tujuan program harus disusun berdasarkan kondisi sebenarnya yang ada di lapangan dan apa yang dapat kita lakukan di lapangan dalam kondisi seperti itu. Contoh: awalnya program kami bertujuan untuk meningkatkan minat baca, namun ketika sudah sampai di lapangan, kami menemukan bahwa anak-anak sekolah belum dapat membaca dengan lancar. Ditambah lagi, rupanya anak-anak kurang memiliki keinginan untuk belajar. Maka, tujuan program kami pun berubah menjadi: meningkatkan minat belajar membaca pada anak. Terlihat ya, betapa drastisnya perubahan tujuan program?

Perlu diperhatikan bahwa yang pertama kali disusun adalah rancangan program. Artinya, program masih dapat berubah selama proses uji coba program di lapangan. Lamanya proses uji coba program ditentukan oleh pembuat program itu sendiri; bisa satu minggu, satu bulan, atau lebih lama. Namun ingat, jangan sampai waktu uji coba ‘memakan’ waktu pelaksanaan program.

Rancangan program memang dapat berubah sesuai dengan hasil evaluasi dari proses uji coba program. Evaluasi dilakukan dengan cara menulis laporan harian secara deskriptif. Rinci, mendetail, dan rapi alurnya. Laporan kegiatan harian ini mencakup nama kegiatan, penanggung jawab kegiatan, deskripsi jalannya kegiatan, bagaimana anak melakukan kegiatan, deskripsi karakteristik dan sikap anak ketika melaksanakan kegiatan, dan lain sebagainya. Dari evaluasi kegiatan harian inilah dapat diketahui apakah kegiatan yang dilaksanakan efektif dan efisien atau tidak.

Setelah proses uji coba dan evaluasi program, barulah didapat gambaran program yang dapat dilaksanakan selama waktu pelaksanaan program yang tersisa. Selama pelaksanaan program, buatlah jadwal kegiatan yang rapi dan terinci, kemudian ditempel di dinding, agar mudah dilihat dan diingat. Selama pelaksanaan program, mulailah mencicil laporan kegiatan. Untuk persiapan terminasi program, kami berusaha membentuk kader sejak awal program dilaksanakan agar kader-kader tersebut tetap menjalankan kegiatan setelah kami pergi dari Desa Sota.

Dari proses yang panjang ini, tentu bisa digali setiap keping cerita. Salah satunya adalah ketika kami beraksi menjadi juru dongeng di kelas. Memang kami tidak bertugas mengajar, namun ketika kami ingin mencoba metode mendongeng sambil berakting agar anak memiliki ketertarikan untuk membaca buku, siapa coba yang harus ‘berkorban’ menjadi jin dan Aluddin dalam kisah Aluddin dan Jin Jenaka di depan kelas? Ada cerita lain ketika kami harus naik sepeda di siang hari yang amat panas, terik, dan kering itu ke sekolah untuk mengajar, kemudian kembali ke rumah pontang-panting karena tiba-tiba hujan sehingga kami harus menyelamatkan cucian.

Atau kisah lain lagi dimana kami harus menyelesaikan proses pelabelan 600 buku hanya selama tiga hari; pindahan rumah yang merepotkan sekali; jalan malam ke tempat sinyal agar bisa menelepon; tiduran di pinggir jalan sambil mengoleskan Vaseline di sekujur tubuh agar tidak digigit nyamuk demi menonton gemerlap bintang yang cerah di langit malam; lari pagi kemudian memancing di rawa, dan ikan yang didapat langsung dibakar di tempat; menyaksikan pelangi lapis tiga sehabis hujan; melatih teater dan melakukan casting; dikejar, diikuti, bahkan ditunggui anak-anak jika kami terlambat datang ke Pustaka Musamus, tempat kami mengajar; lomba balap sepeda bersama anak-anak; mengajar matematika yang diakhiri dengan perang bola kertas; main bola bakar dan bola kaki; memanjat pohon; mengecat dan melukisi sumur di belakang rumah; memetik jeruk; merelakan kain putih yang seharusnya berfungsi sebagai layar film menjadi kain untuk main pocong-pocongan….

Puluhan cerita, ratusan pengalaman, ribuan pelajaran. Secara singkat, itulah gambaran apa yang kami lakukan jauh-jauh disini. Semoga teman-teman lain senang dan terinspirasi, karena kami menulis hanya untuk berbagi. Sampai ketemu di cerita berikutnya ya! J

Road to Yanggandur

Hari ini, kami berkunjung ke Yanggandur untuk melakukan survei lokasi. Yanggandur adalah satu dari lima buah desa yang tergabung ke dalam Distrik Sota. Kelima desa itu adalah Desa Sota, Desa Yanggandur, Desa Erambo, Desa Torai, dan Desa Rawa Biru. Ibukota distrik yang juga sekaligus tempat kami bekerja selama enam bulan terakhir ini adalah Desa Sota. Karena program di Desa Sota akan berakhir pada bulan Juni, maka sebagai pelengkap laporan, kami memutuskan untuk melakukan survei lapangan ke empat desa lainnya di Distrik Sota yang dapat dipertimbangkan oleh petugas lapangan berikutnya jika ingin melakukan replikasi program.

Desa Yanggandur berjarak sekitar 8 kilometer dari jalan besar. Jika jalan besar itu sudah diaspal, maka jalan yang menuju Desa Yanggandur kebalikannya. Jalanannya masih terbuat dari tanah merah. Jika terkena hujan, jalanan tersebut tidak akan bisa dilewati oleh mobil biasa, melainkan harus dengan mobil jenis dobel garda. Mobil biasa akan terkunci oleh lumpur. Selain mobil, orang yang menyetir pun harus tahu bagaimana caranya ‘menaklukkan’ jalanan lumpur tersebut. Bukan perkara mudah untuk menyetir melewati jalanan lumpur di Merauke, karena salah-salah mobil dobel garda pun bisa terendam dan terjebak lumpur. Lebih salah lagi kalau mobil sampai tergelincir dan terjun ke dalam rawa yang ada di kanan dan kiri jalanan. Itulah sebabnya kenapa kami baru bisa pergi ke Desa Yanggandur di musim kemarau seperti ini, sebab kami sama sekali tidak berpengalaman menyetir di medan jalan berlumpur.

Perhentian pertama kami di Desa Yanggandur adalah Pos Satgas Yanggandur. Mereka adalah Satgas dari Kodim Bukit Barisan. Mereka tergabung ke dalam Batalyon Infanteri 132. Ketika kami sampai, Pak Kasmir, Komandan Pos, langsung menyambut kami dengan ramah. Sambil bermain-main dengan kuskus (benar, Anda tidak salah baca, kuskus), kami berbicara tentang kondisi pendidikan di Desa Yanggandur.

Selanjutnya, ditemani oleh Pak Kasmir, kami berkunjung ke rumah Tete Ondo Ovi. Beliau adalah salah satu pemuka adat di Desa Yanggandur. Ia dikenal sebagai panglima perang kampung. Maksudnya, jika ada perang adat, maka beliau adalah pemimpin perang. Ketika kami sampai di rumahnya, beliau rupanya sedang pergi ke ladang. Sembari menunggu beliau, kami duduk di belakang rumahnya ditemani oleh anak-anak dan beberapa Mama (sebutan untuk ibu). Mama yang duduk di hadapan kami bercerita, ada anak yang berlari ke arahnya sembari berteriak, ‘ Mama, itu ada mobil besssaarr!’ Mama memperagakan kata ‘besssaarr’ itu dengan mengangkat tangannya hingga melewati kepalanya. Mama itu tertawa dan berkata, ‘Ya namanya anak-anak, ya saya bingung mobilnya sebesar apakah, kalau sebesar itu Damri (bis umum yang digunakan sebagai alat transportasi antar desa), atau pesawat??’ Lanjutnya, ‘Apalagi katanya yang bawa perempuan, wah, apa lagi ini?’ Kami tertawa geli, karena begitu pula yang terjadi di Desa Sota. Kami sempat menjadi buah bibir masyarakat karena baru pertama kalinya ada perempuan yang menyetir di desa itu.

Tete Ondo Ovi pun datang. Ia mengenakan celana pendek dan sepatu bot plastik berwarna hijau tentara. Ia bertelanjang dada dan mengenakan tas selempang buatan sendiri berwarna kuning. Sembari mengobrol, ia mengeluarkan sebungkus rokok yang ia linting sendiri sebelum dibakar dan dihisap. Ia menyatakan penyesalannya atas tertinggalnya Desa Yanggandur jika dibandingkan dengan Desa Sota. Ia ingin agar desanya juga maju, paling tidak anak-anak dapat membaca, menulis, dan menghitung. Ia juga mengatakan bahwa kami sudah mendapat izinnya jika kami ingin tinggal di Yanggandur untuk mengajar baca, tulis, dan hitung. Ia mengatakan bahwa ia sebagai pemuka adat siap jika Pustaka Musamus didirikan di desa tersebut. Ia menegaskan bahwa tanpa izin dari pemuka adat, siapapun tidak boleh menginjak tanah Yanggandur. Dari sini bisa terlihat ya, betapa pentingnya meminta izin kepada pemuka adat setempat. Seperti kata pepatah, lain ilalang lain belalang.

Orang ketiga yang kami temui selanjutnya adalah Kepala Sekolah SD. Dari beliau, kami berharap tidak hanya data umum mengenai kondisi pendidikan di Desas Yanggandur saja yang bisa kami dapatkan, namun juga cerita mengenai pengalaman beliau selama mengajar di desa ini. Sebelumnya Pak Kasmir sudah memuji beliau karena dedikasinya yang tinggi terhadap sekolah yang dikepalainya itu. Benar saja, beliau banyak bercerita mengenai kondisi pendidikan di desa Yanggandur. Hanya dengan jumlah guru sebanyak 8 orang (hanya 2 orang yang sudah diangkat sebagai pegawai negeri tetap, 3 orang masih berstatus sebagai tenaga pengajar honorer, dan 3 orang guru lainnya adalah tenaga tambahan dari Satgas Yanggandur), Pak Kepala Sekolah justru tidak mengharapkan tambahan tenaga guru. Ia berkata bahwa jumlah guru yang ada sudah cukup untuk mengajar 82 orang murid aktif di sekolah tersebut.

Ia bercerita bahwa awalnya memang sangat sulit untuk mengajak anak sekolah. Oleh sebab itu, beliau menuntut rekan-rekannya sesama guru untuk berpikir bagaimana caranya mengajak anak-anak untuk sekolah. ‘Kita yang harus kreatif!’ begitu kata beliau kepada rekan-rekannya. Alhasil beliau dan guru-guru lainnya pun menggunakan metode permainan agar anak mau belajar. Kami tertawa dan mengatakan bahwa kami mendapat pengalaman yang sama di Sota: kami menggunakan permainan sebagai metode belajar anak. Ada satu cerita lucu dari Bapak Kepsek, yaitu tentang waktu istirahat yang berjumlah dua kali. Beliau berkata, awalnya ia menerapkan dua kali istirahat seperti yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, hanya saja ternyata pada jam istirahat kedua para murid malah bablas pulang, tidak kembali lagi ke sekolah. Wah, bener-bener tengil hehe. Solusinya, hanya ada satu kali istirahat. Berhasil: tidak ada lagi anak-anak yang bablas pulang ke rumah sebelum sekolah selesai.

Survei hari ini ditutup dengan foto bersama anggota Satgas dan anak-anak Yanggandur yang sedang bermain roda gila. Desa berikutnya yang harus disurvei adalah Desa Erambo, Desa Torai, dan Desa Rawa Biru.

Pemandangan di kanan dan kiri jalan:

Salah satu contoh rumah di Desa Yanggandur. Ini rumah bantuan dari pemerintah:

Sebuah foto dari Pos Satgas Yanggandur:

Sampai ketemu di cerita berikutnya! :)

Karet, Kopling, dan Truk

Apa yang terjadi jika karet kopling mobil Anda habis di tengah perjalanan?

Yang jelas, mobil pasti tidak bisa berjalan, karena kopling tidak akan berfungsi, dan jika kopling tidak berfungsi, maka persneling tidak akan bisa digerakkan, dan apalah sebuah mobil tanpa persneling?

Itulah yang terjadi pada kami dua hari yang lalu. Dalam perjalanan menuju kota Merauke dari Distrik Sota, saya yang sedang menyetir tiba-tiba tidak bisa menggerakkan persneling. Stuck. Macet. Saya mencoba menggerakkannya dengan satu tangan, dua tangan, bahkan kemudian saya mendorong persneling itu kuat-kuat (bukan lagi berusaha menggerakkannya), tapi nihil. Akibatnya, saya harus menghentikan mobil di tengah jalan. Ketika saya turun dari mobil dan melongok ke bawahnya, saya melihat genangan air kecil berwarna merah… Great. Itu adalah minyak kopling. Rupanya bocor. Saya bergegas mengambil botol minyak kopling dari dalam mobil, tapi rupanya botol itu kosong. Sialan.

Kejadian itu terjadi di jalan menuju kota Merauke. Kami baru saja melewati Distrik Yanggandur, jadi kira-kira masih ada 60 km perjalanan menuju Kota. Jalanan lebih sepi dari mobil dan truk yang lalu lalang karena hari itu adalah hari Minggu. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Karena kami berhenti di tengah jalan, maka Imma mendorong mobil itu ke pinggir agar tidak menghalangi mobil lainnya yang ingin lewat. Saya bertugas mengarahkan setir. Kemudian, kami duduk di dalam mobil, merenungi nasib, memikirkan bagaimana caranya keluar dari situasi ini.

Sebenarnya jika diingat kembali, ini bukan pertama kalinya kami mengalami masalah dengan mobil.  Kami pernah naik mobil yang kanvas rem-nya baru dipasang, tapi ternyata kanvas rem-nya dipasang terlalu kencang sehingga kami harus berhenti setiap 3 menit sekali untuk menyiram entah apa bagian mobil agar tidak terbakar. Kemudian, ketika perjalanan dilanjutkan, ternyata rem sama sekali tidak berfungsi, sehingga kami harus pasrah melanjutkan perjalanan hingga ke Kota dengan mobil tanpa rem.

Kami juga pernah terjun ke rawa. Jadi ceritanya saya sedang menyetir, berusaha berbalik arah, namun sebelum sempat memutar setir menuju arah yang diinginkan, saya dan mobil keburu terjun ke dalam rawa. Akhirnya mobil itu harus ditarik naik dengan bantuan truk. Pernah juga, ketika sedang menyetir mobil di dalam kota, tiba-tiba pintunya terbuka sendiri. Belum lagi ketika dua kali terjadi, roda mobil terkunci di dalam lumpur, sehingga tidak bisa bergerak. Akibatnya, mobil harus didorong hingga keluar dari area lumpur. Memang mobil tersebut adalah mobil dobel gardan, hanya saja saya masih tukang nyetir amatir yang tidak tahu caranya memfungsikan dobel gardannya. Tapi sekarang saya sudah tahu, jadi tunggu saja cerita berikutnya!

Well, hampir sama dengan kejadian terjun ke dalam rawa, kami juga menghentikan sebuah truk, lalu meminta bantuan truk itu. Awalnya kami meminta persediaan minyak kopling, namun karena truk tersebut tidak memilikinya, dan juga karena ketika supir truk melihat kondisi mobil yang tidak mungkin bisa diperbaiki hanya dengan menambahkan minyak kopling, maka ia bersedia menarik mobil tersebut hingga ke Wasur. Dari Wasur, kami harus membawa mobil ini ke rumah Pak Bos untuk diperbaiki.

Perjalanan dari jalan raya menuju rumah Pak Bos juga tidak mudah, karena rumah Pak Bos dibangun di atas sebuah danau yang, percayalah, berisikan buaya-buaya peliharaannya. Rumah itu juga dikelilingi oleh sawah seluas 600 Ha miliknya. Ia juga memelihara rusa, ikan, sapi, dan itik. Di depan rumahnya, berderet-deret anggrek dengan berbagai jenis dan warna dipelihara dengan baik. Untuk mencapai rumah itu, kami masih harus menempuh jarak sekitar 1 km. Nah, karena kami hanya ‘diantar’ hingga ke jalan besar, maka untuk menempuh jarak 1 km berikutnya, kami harus pasrah ditarik dengan… traktor. Sebab tidak ada mobil lain yang bisa berfungsi di rumah Pak Bos. Sayangnya kami tidak sempat memotret adegan itu.

Kepada truk merah dengan plat DS xxxx AA, kami mengucapkan terima kasih banyak.

Melalui kejadian dengan mobil ini (harap dicatat, untuk kesekian kalinya), kami sepakat bahwa Some things only happen to some people. Sampai ketemu di cerita berikutnya!

Painting Session

Hari ini, seperti yang telah kami janjikan, kami mengadakan sesi menggambar dengan menggunakan cat air. Sebenarnya kegiatan menggambar sudah sering dilakukan, bahkan menggambar sudah jadi senjata andalan kami kalau anak-anak tidak mau belajar, hanya saja mereka tidak pernah menggambar dengan menggunakan cat air. Sesi ini dimulai dengan membagikan palet plastik warna-warni berbentuk bunga, kuas kayu, dan kertas untuk masing-masing anak. Setelah itu, kami menuangkan cat ke setiap palet. Kami hanya menggunakan warna merah, kuning, oranye, hijau tua, biru tua, dan putih. Rencananya, selain menggambar, kami juga akan mengajari mereka bagaimana mencampur warna untuk mendapat warna lain yang diinginkan.

Di awal kegiatan, posisi meja dan duduk anak-anak masih seperti di bawah ini—cakep, rapih:

Pelajaran melukis dimulai dengan menggambar apa yang biasa mereka gambar: matahari, awan, sawah, dan bunga, namun di akhir sesi kegiatan mereka bebas menambahkan gambar apa saja yang mereka mau. Intinya, selain mengenalkan pada kesenangan mengggambar, mereka juga mulai dapat belajar menggunakan cat air. Bagaimana mereka belajar untuk tidak terlalu banyak menggunakan cat air agar, bagaimana mereka mencuci kuas bersih-bersih sebelum menggunakan warna yang berbeda, bagaimana mereka mencampur warna agar mendapat warna lain, bagaimana membersihkan semua alat menggambar seusai dipakai, itu semua mereka pelajari di sesi menggambar ini.

Lucu juga melihat anak-anak ini melukis… Some are serious:

Some are less serious:

Sebagai pendidik, kami juga harus menjalankan tugas sebagai pengawas, karena bisa saja ada kejadian sederhana dan dapat luput dari penglihatan mata, seperti ini:

Selidik punya selidik, kemana gurunya yang satu lagi? Oh ternyata dia tidak mau kalah dengan murid-muridnya:

Tiba-tiba saja, ‘Aku minta.’ Permintaan ini keluar dari seorang anak perempuan kecil, bernama Nona. Umurnya belum ada 4 tahun, matanya bulat besar dan bulu matanya begitu panjangnya, melengkung hingga menyentuh kelopak mata. Anak ini selalu meminta apapun yang dimiliki oleh orang lain. Karena dia masih terlalu kecil untuk melukis dengan cat air, kami tidak memberikannya kuas dan cat air. Kami pikir dia bakal ngambek, namun rupanya dia menemukan penghiburannya sendiri:

Entah bagaimana caranya, dia memanjat ke atas kap mobil kami dan duduk anteng disana. Dia mengajak rekan sepermainan dan mungkin saja calon suaminya di masa depan: Tedjo.

Kertas-kertas dengan beraneka warna dan gambar pun dijemur di halaman rumah.

Seusai sesi, posisi meja dan duduk anak-anak telah berubah menjadi seperti ini:

Meja terbalik, kertas dimana-mana, dan anak-anak yang sudah berlari keluar entah karena bosan di dalam ruangan atau mencuci peralatan melukis mereka.

Begitulah bagaimana kami menjalani salah satu sesi mengajar kami. Sampai ketemu di cerita berikutnya!

This.

“The root of education is bitter, but the fruit is sweet.”



 

Di sekolah, yang penting bukan berapa banyak soal yang bisa diselesaikan atau berapa nilai sepuluh yang bisa didapatkan, namun apa yang murid-muridku pegang teguh dalam hati ketika belajar, yaitu: semangat, kerja keras, tanggung jawab, tidak menyerah, dan keyakinan diri. Semoga aku bisa mengenalkan semua itu, dan membuat murid-murid aku menjadi orang-orang yang mandiri dan benar-benar berdiri di atas tanah mereka sendiri.

Senja Setengah Enam

Salah satu waktu terbaik untuk menikmati Distrik Sota adalah menjelang malam—senja setengah enam. Langit akan dipenuhi oleh gradasi warna matahari: kuning, oranye, merah jambu, dan ungu. Awan yang siangnya berkilau putih kebiruan kali ini bersemu jingga. Pada waktu-waktu itu, aku akan mengayuh sepeda menyusuri jalan provinsi menuju arah matahari, tepatnya jalan menuju ke arah kota Merauke, terus melaju hingga melewati patok selamat jalan dan tiang pemberitahuan layanan internet kecamatan. Terus lurus menuju arah matahari. Udara dipenuhi wangi air dan bebunyian serangga. Aku seakan diterkam kesunyian.

 

Di waktu-waktu itu, aku dapat merasa menjadi apa adanya aku; aku yang jauh lebih nyaman tanpa dikelilingi orang-orang. Aku jadi bisa lebih berpikir. Ada beberapa pertanyaan yang cukup mengganggu aku, karena aku tidak bisa mencari jawabannya dalam keriuhan dan keramaian; dan salah satu hal yang paling tidak kusukai adalah pertanyaan yang tidak terjawab.

 

Kemarin-kemarin aku bertanya pada diri sendiri, ‘Apa yang aku lakukan disini?’ dan aku otomatis menjawab, ‘Mengajar. Memberantas buta huruf. Mengajar matematika. Memperkenalkan huruf.’ Lalu sejujurnya aku tetap merasa kosong; karena sungguhkah apa yang aku lakukan ini benar-benar berarti? Apakah yang aku lakukan ini benar-benar dapat membawa perubahan bagi anak-anak ini? Apa bedanya yang aku lakukan dengan apa yang guru-guru sekolah lakukan? Apanya dari pekerjaanku yang dapat membawa masyarakat ini, anak-anak ini, untuk maju? Karena rasanya sulit membayangkan hubungan langsung antara mengajar anak untuk membaca dengan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat melalui pendidikan.

 

Sambil memandangi senja, aku jadi mempertanyakan arti mengajar sebagai bagian dari pendidikan, yang mundur kembali ke pertanyaan: apa sih pendidikan? Lalu entah bagaimana aku sekilas ingat sekolah macam apa yang kujalani selama dua belas tahun sebelum memasuki pendidikan tinggi: sekolah swasta dan sekolah negeri pernah kukecap. Guru yang baik, guru yang pintar, guru yang lucu, guru yang kubenci amit-amit, guru yang merokok sambil mengajar, kepala sekolah, guru yang aku kagumi, guru yang gendut. Guru yang menyuruhku menyapu kelas gara-gara lupa membawa LKS. Guru Olahraga yang memujiku karena aku bisa memperagakan posisi lari dengan benar. Guru yang memintaku untuk mengikuti lomba pidato bahasa Inggris. Guru yang mengatakan padaku bahwa aku tidak akan bisa masuk UI. Guru Agama yang menyambitku pakai kapur. Guru yang bingung kenapa aku bisa dapat nilai 3 untuk ulangan akhir Kimia. Guru yang memarahiku di depan teman-temanku karena aku selalu dapat 7 untuk pelajaran IPS. Guru Geografi yang selalu kami ejek, hingga beberapa bulan kemudian beliau meninggal karena serangan jantung, dan sampai sekarang aku masih merasa bersalah dibuatnya.

 

Dari situ aku teringat bahwa semua sekolah juga punya guru yang mengajar matematika. Semua guru juga harus bisa mengajar membaca. Dan apa yang mereka lakukan hanya segelintir dari apa yang aku namakan sebagai kenangan. Apa yang pernah aku alami di sekolah adalah bagian dari pengalaman yang menjadikan aku seperti aku yang sekarang ini. Apa yang aku ingat bukan pelajaran yang aku pelajari, tapi apa yang kurasa ketika pelajaran itu aku pelajari. Apakah jengkel, apakah senang, apakah semangat, apakah yakin, dan sebagainya.

 

Kini aku jadi tahu bahwa mengajar bukan hanya sekedar membuka dan menjelaskan isi buku, kemudian menguji. Dari situ aku tahu bahwa belajar bukan hanya sekedar dari tidak tahu jadi tahu; dari tidak paham jadi paham. Namun, lebih kepada memberikan pengalaman yang nantinya akan membentuk mereka menjadi siapa dan apa. Siapa tahu anak-anak kecil, yang susah sekali diajak belajar membaca, yang sudah dua minggu diajari perkalian sepuluh tetap tidak hapal juga, akan menjadi anak-anak yang seperti mereka yang kutahu hebat dan bertanggung jawab. Seperti kalian yang kukenal tangguh, berani maju, dan cerdas. Lalu dari situ, masyarakat Papua benar-benar akan menjadi tuan di tanah yang dipijaknya.

 

Senja setengah enam mulai mengabur. Di langit, bulan sabit sudah menggantung dan gemintang mulai plesir. Aku memutar sepedaku menuju arah berlawanan, arah menuju rumah, sambil sesekali memandangi kuncup-kuncup teratai merah jambu dan ungu. Ngik ngok, begitu bisik kayuhan sepeda.

 

Semua orang memang butuh waktu untuk sendirian.

 

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.