Hidangan Pembuka
07 Jun 2011 Leave a Comment
by livethefullest in Pulau Selaru, Kabupaten Maluku Tenggara Barat
Perjalanan saya yang pertama ke Provinsi Maluku, tepatnya ke Desa Adaut yang terletak di Pulau Selaru, Maluku Tenggara Barat, memiliki potongan ceritanya tersendiri. Saya pergi ke sana dalam rangka menjalankan tugas sebagai pendamping lapangan peserta Kuliah Kerja Nyata (K2N) UI 2010. Desa ini adalah salah satu dari 10 lokasi tujuan K2N UI, dan saya beruntung karena mendapat kesempatan untuk mendampingi adik-adik saya ini.
Bagaimana caranya mencapai Desa Adaut? Menggunakan bis kuning (bis kuning adalah sebutan untuk bis yang khusus digunakan di dalam lingkungan kampus UI. Warnanya kuning dengan tulisan UNIVERSITAS INDONESIA di badan bis), kami berduabelas—sepuluh orang peserta, satu orang dosen pembimbing, dan satu orang pendamping lapangan—memulai perjalanan kami pukul 11 malam tanggal 1 Juli 2010, dan sampai di bandara Soekarno-Hatta tanggal 2 Juli 2010 pukul 12 malam. Setelah berjibaku dengan barang-barang logistik dan barang-barang pribadi, kami berangkat dengan menggunakan pesawat komersil menuju Ambon. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 4 jam. Dari Ambon, kami naik pesawat perintis menuju Saumlaki, ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Sesampainya di Saumlaki, kami kembali menempuh perjalanan laut dengan menggunakan kapal selama dua jam, melewati laut dengan ombak ganasnya yang mencapai ketinggian 3 – 5 m, dan Selat Egron. Barulah kami sampai di Desa Adaut, ibukota dari Kecamatan Pulau Selaru.
Pulau Selaru adalah salah satu pulau terdepan Indonesia; perbatasan laut dengan negara Australia. Desa Adaut, sebagai salah satu desa di pulau ini, memiliki gambaran sosial-ekonomi yang menarik di mata saya. Kabupaten Maluku Tenggara Barat sendiri, tampak jelas denyutnya sebagai kabupaten pemekaran yang baru saja terbentuk. Pembangunan tampak jelas di berbagai sudut kota Saumlaki, ibukota MTB. Gedung-gedung pemerintahan baru dibangun. Kini ada dua maskapai penerbangan—meski pesawat perintis—sehingga setiap hari ada pesawat yang keluar-masuk Saumlaki.
Selama kurang lebih 30 hari, saya mendampingi para peserta K2N UI 2010 ini berjuang, menjejak dan melangkah, tertatih, namun begitu riang dan polosnya, menyelesaikan satu, demi, satu, tantangan yang mereka temui tiap hari. Ada saja kejadian aneh yang saya saksikan. Misalnya, kelompok dengan program makanan ringan, berhasil membuat ampyang kacang—makanan ringan yang terbuat dari lelehan gula merah dan kacang tanah—yang enak, hanya saja ampyangnya melekat begitu erat di piring beling sehingga untuk memakannya, kami terpaksa mencungkilnya sedikit demi sedikit dengan garpu. Empat hari kemudian, barulah ampyang itu habis satu piring. Pelajaran: lain kali jangan mencetak ampyang dengan piring beling. Cukup gunakan daun pisang.
Seperti yang pernah saya katakan, begitu banyak kisah yang bisa digali dari setiap hari yang saya, yang kami, lewati. Indahnya matahari terbenam dan bayangannya di air, sehingga seakan ada dua matahari terbenam; pelangi sehabis hujan; pemandangan di belakang gereja di sore hari; belajar mengendarai kapal ting-ting; naik perahu motor membelah laut untuk melihat ladang rumput laut; demo masak; memandu senam lansia; karaoke di depan penduduk desa; melihat lumba-lumba berenang bebas di lautan lepas; dan berbagai macam pengalaman lain yang sedikit banyak membuat saya lebih mengenal diri sendiri.
Kisah-kisah berikutnya adalah tulisan yang berasal dari jurnal pribadi saya selama menjadi pendamping lapangan. Saya menulis jurnal harian itu untuk menginspirasi teman-teman peserta untuk terus menulis, karena ketika perjalanan selesai, maka salah satu cara untuk mengenang adalah melalui tulisan. Kini saya mempublikasikan cerita-cerita ini, hanya karena ingin berbagi dan menyebarkan pesan ini:
“Pergilah!
Jejakkan kaki ke luar, langkahkan mimpimu, lihatlah dunia dari mata mereka yang ada di luar kita. Jadilah bagian dari dunia para pejalan. Rasakan sensasi yang tentu dirasakan oleh Marcopolo, Ferdinand Magelhaens, atau Jack Sparrow.”
Semoga terhibur, dan semoga terinspirasi.
Butterfly
30 Aug 2010 Leave a Comment
by livethefullest in Pulau Selaru, Kabupaten Maluku Tenggara Barat
Setiap perjalanan jauh, terutama perjalanan yang menuntut kita untuk berhadapan dengan alam, selalu punya cara untuk mengubah kita. Misalnya, perjalanan jauh terakhir ke sebuah pulau di selatan Indonesia selama sebulan membuat saya untuk belajar menghargai hal-hal kecil di sekitar saya. Menghargai, kemudian bersyukur. Jika sebelumnya saya hanya bersyukur atas hal-hal yang membuat napas saya tersentak entah karena kejutannya atau entah karena indahnya, maka kali ini saya belajar untuk mencari hal-hal yang harus bisa saya nikmati kecantikannya; keelokannya; meskipun sebenarnya hal itu sungguhlah remeh adanya.
Saya belajar untuk menghargai kesunyian yang ada di dalam sebuah gereja. Saya belajar mencintai suara cericip burung-burung yang terbang sana-sini di langit-langitnya. Saya belajar memaknai bahwa sesungguhnya hujan, sederas apapun, pasti akan membawa matahari dan pelangi. Saya belajar bersyukur untuk setiap denyut nadi yang saya dengarkan dari lengan kiri saya setiap akan tidur di malam hari.
Saya belajar memahami keterbatasan, ketidakmampuan, kealpaan yang ada di setiap orang. Saya belajar untuk tidak menuntut, tidak menggurui, tidak menjaga, tidak melarang. Saya belajar untuk mendengarkan jawaban. Saya belajar untuk menerima seseorang apa adanya. Bahkan saya kini tidak memandang orang ‘apa adanya’ karena saya belajar untuk memandang seseorang dengan ‘segala adanya’.
Saya belajar untuk tertawa dari hati, bukan karena keharusan. Saya belajar untuk menerima bahwa ada manusia yang memang bodoh. Saya belajar bahwa di setiap tempat yang saya datangi, pasti ada mereka yang spesial; pasti ada mereka yang indah; pasti ada mereka yang bersinar. Saya mencatat bahwa setiap tempat punya bintangnya sendiri-sendiri. Bahwa setiap orang butuh pahlawan.
Saya mengingatkan diri sendiri bahwa setiap orang berhak untuk menikmati waktunya sendirian, tanpa teman. Saya belajar melukis pemandangan di atas selembar kertas. Saya belajar untuk tidak lari dari sakit hati. Saya membaca bahwa hidup itu hanya titipan. Saya belajar untuk berani, bukannya nekat dan tidak memikirkan konsekuensi. Saya belajar untuk tidak meminta. Saya belajar untuk diam. Bahkan saya belajar untuk tidak bertanya.
Terakhir, hal-hal yang saya temukan, pelajari, dan ingat, membuat saya yakin bahwa setiap perjalanan pasti dapat mengupas sedikit demi sedikit topeng persona yang kita kenakan, yang memaksa kita untuk menghadapi diri sendiri tanpa ampun dan tanpa persiapan. Namun itulah indahnya perjalanan alam: semakin kenal dengan diri sendiri, maka kita semakin mantap menghadapi dunia.