Galaksi Impian Malam Ini

Jika memang harus begini jalannya…

Aku mohon agar aku bisa merelakan cintanya yang dulu pernah kumiliki

Aku pinta, semoga dia tak tahu bahwa aku menangisi hatinya yang tak akan kembali

Dalam isak aku menginginkan kebahagiaannya dan mengharapkan maafnya untukku yang telah membuatnya ragu akan cintaku untuknya

Sesungguhnya, tak ada untaian kata yang lebih indah dibandingkan matanya yang memancarkan hidupnya,

Karena bagiku, hanya hidupnyalah yang menjadi bintang dalam galaksi impian malam ini.

(Oktober 2005)

Heart of the Matter*

Satu lagu yang pasti mengingatkan aku akan kamu adalah lagu yang dinyanyikan oleh India Arie yang berjudul Heart of the Matter. Sebuah lagu yang menceritakan pasangan yang telah berpisah, dan sang lelaki telah menemukan pengganti sang perempuan, dan sang perempuan menyesalkan saat-saat dimana mereka tidak dapat mempertahankan hubungan mereka.

 

Sama dengan kita yang telah melupakan apa yang pernah kita ikrarkan dan perjuangkan bersama dalam perjalanan yang kita niatkan berdua.

 

Kita terlalu berfokus pada cinta dan melupakan fondasi-fondasinya.

 

Kita merasa terlalu mengenal, terlalu aman, tidak berusaha, tidak berjuang sekeras di awalnya.

 

Dan lalu kita pun menguap.

 

Rasanya tidak ada kata sesal atau maaf yang dapat mengurangi rasa sakit yang aku rasakan, atau pedihnya harapan yang terbuang, ketika kita memutuskan untuk berpisah jalan.

 

 ‘How I lost me, and you lost you… And all the things I thought I’ve figured out, I’m learning them again.’

 

Lalu semoga suatu saat nanti kita bertemu lagi dalam wujud manusia yang kita impikan dulu: kuat, dewasa, dan paham bagaimana mencintai.

 

‘And I’m thinking about forgiveness, even if, even if you don’t love me anymore.’

 

(16 Desember 2010)

Damai

(Catatan: cerita ini ditulis pada tanggal 22 April 2010 dan baru dipublikasikan hari ini)

Salah satu lukisan Gogh membuat napas saya terperangkap.

Saya menangkap kata-kata sepi, teduh, tenang, dingin, sendiri, dan di atas segalanya, damai, dari lukisan ini.

Saat ini saya sedang berada di dalam kamar. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Meskipun hujan sudah berhenti berjam-jam yang lalu, namun karena hujannya mengguyur sejak siang hingga sore, maka udara dinginnya masih tersisa. Saya berada dalam posisi nyaman—punggung saya bersandar enak di kepala tempat tidur dan dialasi dua buah bantal putih besar yang empuk. Meskipun saya hanya mengenakan celana pendek dan baju kutung, namun kaki hingga pinggang saya aman dari serangan dingin karena terlindungi oleh selimut tebal kesayangan saya yang berwarna kuning dengan motif berwarna oranye.

Saya baru saja selesai makan malam setengah jam yang lalu—bebek goreng yang empuk dan gurih. Tekstur dagingnya lembut dan kulitnya renyah. Sambalnya pedas dan menggigit. Saya makan dua kali porsi biasa—makanya sekarang saya tergeletak kekenyangan begini.

Tadi pagi saya nonton dua film yang bagus sekali, dilanjutkan oleh sebuah film lainnya. Total ada 3 film yang saya tonton hari ini, atau kira-kira 6,5-7,5 jam saya habiskan untuk menonton film. Selain itu saya berhasil menggoreng telur ceplok setengah matang kesukaan saya, yang saya makan dengan sepiring besar salad kentang bersaus mayones dan ditaburi parutan keju, tak lupa dengan secangkir besar teh manis.

Siangnya, saya menghabiskan kira-kira satu jam online tanpa gangguan. Saya bertukar pesan singkat dengan beberapa teman, dan tertawa-tawa sendirian membaca pesan singkat-pesan singkat tersebut. Saya pun berhasil membereskan dan membersihkan rumah; saya membereskan dua kamar tidur, menyapu dan mengepel seluruh rumah. Rumah saya jadi bebas debu, lagipula jadi wangi lemon. Setelah membereskan rumah, saya mandi dengan seksama, kemudian main Magic Farm hingga menyelesaikan 1 level. Rasanya enak sekali meluruskan kaki dan tangan yang kelelahan, main komputer, dan mendengarkan lagu yang bisa diputar ulang lagi dan lagi.

Damai.


Dunia berjalan lambat dalam pusaran rumah kecil saya yang nyaman dan damai. Sangat berbeda dengan minggu ini, ketika hari diukur dengan berapa banyak jam yang dihabiskan di perpustakaan untuk mengerjakan tugas; berapa waktu yang harus saya habiskan untuk pulang malam ini; makanan apa yang bisa cepat dimakan supaya langsung bisa ke kelas, mencuri waktu mengerjakan tugas; membagi waktu untuk mengambil data, bertemu dengan pembimbing.

Sangat berbeda dengan hari-hari yang baru saja terlewat, ketika mereka diukur dan dijalani dalam hitungan jam ke jam; ketika mereka dinilai berdasarkan apa yang sudah dan belum saya kerjakan; ketika saya dinilai berdasarkan performa di kelas.

Sangat lain karena di hari-hari itu, ada rasa sakit ketika diabaikan oleh teman saya, ketika saya hanya melihat punggung mereka yang meninggalkan saya di belakang mereka, seakan lupa bahwa awalnya kami jalan bertiga. Ada rasa terasing ketika mengobrol sesuatu yang tidak saya pahami, karena memang tidak saya ikuti jalan cerita dari awal. Ada rasa ngilu ketika tidak didengarkan, ada rasa pedih karena tidak ditanya, ‘Apa kabar?’

Saya bandingkan hari-hari itu dan saat ini. Rasa tidak rela kemudian menyeruak bebas. Di sini, di kamar yang enak ini, hangat, kenyang, dan mengantuk, saya bisa berpikir jernih. Rasanya semua perasaan rendah diri, inkompeten, iri, kecewa, dan sedih yang saya rasakan itu punya orang lain. Saya bisa berpikir jernih kenapa saya waktu itu saya merasa inkompeten; apa yang memicu rasa iri; kenapa kecewa yang saya rasakan tidak berakhir. Saya melakukan ratusan kali rasionalisasi, saya menciptakan jutaan pikiran positif, namun tidak ada yang membantu.

Meskipun saat ini merasa damai, saya tidak lupa apa yang saya rasakan.

Dan saya takut mengalaminya lagi.


Lebih menjadi beban ketika saya sadar bahwa ini pertama kalinya saya merasakan hal-hal tersebut. Membuat saya mengetahui, Oh saya ternyata bisa juga merasa iri, kecewa, merasa tidak dianggap, dan tidak mampu. Biasanya saya bisa lolos dari perasaan-perasaan tersebut, tapi untuk pertama kalinya, dalam minggu lalu itu, selama berhari-hari, saya terperangkap. Terpuruk. Dan saya tidak tahu bagaimana melepaskan diri.

Bisa dikatakan bahwa itu adalah salah satu minggu paling menyengsarakan, namun saya berlagak ceria dan tidak berpikir apa-apa. Seperti biasa. Seperti yang telah dikenal semua orang tentang saya: bahwa saya tidak pernah diruweti oleh masalah-masalah cemen seperti perasaan. Bahwa saya orangnya selalu mampu melihat sisi positif dari apapun.

Jujur, saya takut.


Saya takut merasa inkompeten. Saya takut merasa tidak diinginkan. Saya takut merasa sedih. Saya takut tidak didengarkan. Saya takut diacuhkan. Saya takut tidak dianggap. Saya takut diabaikan. Saya takut kesepian. Saya takut menangis. Saya takut benci akan diri saya sendiri. Saya takut merasa bodoh. Saya takut kelelahan. Saya bahkan takut pulang malam.

Pertama kalinya, saya takut sendirian.


Tapi saya sendirian, dan saya ketakutan. Saya kesepian, dan saya sendirian.

Pikiran dan perasaan saya saat ini memang berbeda dari apa yang saya pikirkan dan rasakan beberapa hari yang lalu. Bahkan hampir bertolak belakang.

Pertanyaan saya: Akankah saya jadi punya pegangan keberanian untuk menghadapi hari-hari depan? Akankah saya jadi orang yang kuat hati, seperti sebelum-sebelumnya? Akankah keadaan minggu depan akan lebih baik daripada minggu lalu? Atau justru lebih buruk? Kalau lebih buruk, bagaimana saya bisa menghadapinya, jika yang kemarin saja saya hampir tidak bisa?


Kadang manusia butuh berkata ‘tidak bisa’ untuk memaklumi keterbatasannya. Kadang manusia butuh untuk berhenti berlari. Atau mungkin, kadang-kadang pikiran dan perasaan tidak perlu bergandengan. Karena kadang, hati dan kepala memang harus sekali-kali jalan sendiri-sendiri.

Bersimpuh

“A girl can wait forever.” (Supernatural)

I disagree. Everything has limits. Including a girl’s patience;

a girl’s strength;

a girl’s love.

Kadang..

Kadang manusia butuh berkata ‘tidak bisa’ untuk memaklumi keterbatasannya. Kadang manusia butuh untuk berhenti berlari. Atau mungkin, kadang-kadang pikiran dan perasaan tidak perlu bergandengan. Karena kadang, hati dan kepala memang harus sekali-kali jalan sendiri-sendiri.

Kamu dan Kita

A

ku mau menangis. Mungkin karena aku habis bertengkar dengan Ibu; pertengkaran ini tidak kusadari membuatku lebih sedih daripada yang kuduga, makanya aku menangis.

Atau karena aku lagi banyak tugas. Haha. Ketika orang membaca kalimat yang baru saja kutulis, mungkin sebagian besar akan meremehkan tugasku. Dipikir mereka, tugas saja, kok bisa buat orang menangis. Rasanya ingin kuteriakkan kepada mereka, ‘Kalo ga pernah kuliah di Fakultas Psikologi UI di bulan November diem aja deh!!” tapi tentunya tidak kuteriakkan, karena memang benar, tugas tidak seharusnya membuatku menangis. Hanya membuat lelah, tapi tidak membuat menangis.

Dua kemungkinan itu bisa saja alasanku mau menangis. Atau bukan. Bisa saja alasanku menangis adalah karena aku mengerjakan tugas setelah bertengkar dengan ibuku sambil mendengarkan sebuah lagu yang mengingatkan diriku akan cuilan kamu.

Kamu datang dan pergi cepat sekali. Meskipun begitu, seharusnya begitu banyak yang kuingat tentang kamu dan kita. Seharusnya begitu banyak yang bisa kutulis saat ini ketika dorongan untuk menggurat di kertas ini muncul begitu saja. Seharusnya begitu banyak yang bisa kuceritakan, begitu banyak yang bisa kubagi. Sesungguhnya begitu banyak yang ingin aku ingat tentang kamu dan kita, tapi tidak ada, tidak ada yang bisa kulakukan saat ini selain meracau sambil menahan tangis.

Aku ingin mengingat kamu, tapi aku tidak bisa. Aku ingin mengingat kita, tapi aku tidak mampu. Aku tidak tahu bagaimana caranya agar aku bisa berbagi kisah tentang kamu dan kita kepada mereka—padahal aku kan pengin pamer! Aku pengin pamer pas kamu bawain aku obat alergi sebagai ganti bunga mawar di kencan pertama. Aku pengin pamer pas kamu jemput aku jauh-jauh di Puncak hanya karena aku merengek minta pulang. Aku pengin pamer ketika kamu bilang kamu cinta aku di pagi buta itu. Aku pengin pamer ketika kita main adu tebak lagu dan aku menang melulu. Aku pengin pamer kamu yang pinter main basket. Aku pengin pamer kamu yang pengecut. Aku pengin pamer kamu yang tukang marah-marah. Aku pengin pamer kamu yang pinter buat aku mengobral maaf. Aku pengin pamer kamu yang. .  .

Rasa-rasanya aku mulai berbagi sedikit cerita tentang kamu dan kita, ya kan? Dan aku melakukannya tanpa menangis lho. Padahal tadinya aku kan pengin nangis, tapi nggak jadi lho Sayang.

Kamu datang dan pergi cepat sekali, Sayang. Ingin kuingat lagi kamu dan kita. ingin kukristalkan semua memori itu dan kusimpan dalam tabung kristal yang bisa disimpan, tahan pecah, dan anti hilang—karena aku tukang merusakkan dan menghilangkan barang. Biar aku bisa selalu mengenang apa yang pernah kita miliki sebagai pelajaran dan pengalaman—tanpa sakit, tanpa sedih, tanpa pedih. Buat apa bermuram durja jika bisa tertawa, ya kan Sayang? Apalagi kamu sering sekali membuatku tertawa-tawa.

Mungkin karena kamu pergi terlalu cepat, Sayang, makanya aku tidak bisa mengingat kamu dan kita. Hanya secuil yang bisa kubagi dalam kisah hari ini, sisanya tidak bisa lagi kugali dari dalam otak sini *mengetuk-ngetukkan kepala dengan jemari telunjuk*. Mungkin juga karena aku tidak terlalu cinta sama kamu, makanya aku tidak bisa mengingat kamu dan juga kita. Karena memori itu tidak terlalu berharga untuk dikenang dan disimpan. Atau mungkin, mungkin karena kamu pergi sudah lama sehingga sakitnya ketika mengenang kamu dan kita tidak lagi terasa. Namun akibatnya, kamu dan kita juga menjadi kabur, menguap.

Semua kemungkinan itu aku nggak tau mana yang bener dan mana yang kurang bener. Yang jelas malam ini aku menulis karena aku sedih. Sedih karena aku tidak bisa mengingat kamu dan kita; dan sedih karena aku masih ingin mengingatnya.

“…And I will never forget how you touched my life, You made me feel like I belong…”

(Natasha Bedingfield, Still Here)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.